DetikNews
Jumat 17 Agustus 2018, 15:32 WIB

Suara Veteran Perang dari Tapal Batas Entikong

Rahmatia Miralena - detikNews
Suara Veteran Perang dari Tapal Batas Entikong Singkih Margono (78), veteran perang di Entikong. (Rahmatia Miralena/detikcom)
Jakarta - HUT RI punya arti yang sangat besar bagi veteran. Singkih Margono (78) salah satu veteran di era masa penjajahan masih tetap bersemangat menjalani upacara kemerdekaan di usia senjanya.

Singkih bercerita pasca upacara kemerdekaan di pos lintas batas negara (PLBN) Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Di tapal batas Indonesia-Malaysia ini.

Dia menuturkan kondisi Entikong zaman dulu yang berupa hutan kosong. Entikong menjadi saksi bisu aksi penjajahan.



"Dulu itu seperti hutan-hutan gini lah. Jalan kayak gini nggak ada. Kita nunggu-nunggu dulu perang di perbatasan PLBN (ini). Saya dulu terlibat (perang melawan) Gurkha, Inggris, dan Malaysia. Komunis PKI juga," ucap Singkih sembari menunjukkan hutan di belakang PLBN.

Memang di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pembangunan jalan dan infrastruktur terus digenjot. Kecamatan Entikong pun makin dipercantik dengan jalan mulus dan berbagai fasilitas umum.

"Terima kasih sudah agak lumayan (kondisi Entikong). (Pemerintah) Sudah bantu kita. Jalan, air, di kampung itu air bersih dikasih, jalan dikasih," lanjut Singkih.



Namun, para veteran di tanah Entikong dirasanya masih kurang berkecukupan. Total ada lima veteran di Kecamatan Entikong. Singkih berharap pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan para veteran di masa tuanya.
Suara Veteran Perang dari Tapal Batas EntikongSingkih Margono (78), veteran perang di Entikong. (Rahmatia Miralena/detikcom)
"Rumah, masih rumah kayu, (ada juga) rumah bambu, atap sagu (daun sagu). Pokoknya kami minta tolonglah bantu kami yang sudah pejuang dulu-dulu. Seperti rumah, obat-obat, bantuan rumah tangga, untuk dapur," ucap Singkih



Walaupun pemerintah sudah memberikan uang pensiun. Singkih mengatakan uang tersebut tak cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

"Bapak sekarang pensiunnya Rp 1.400.000,00 nggak cukup, kalau untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari paling kurang Rp 3 juta," kata Singkih

Tak ingin berpasrah diri begitu saja, Singkih pun tetap bekerja mencukupi kebutuhan ia bersama istrinya. Ia mengaku berkebun dan menjual hasil perkebunannya ke pasar Entikong.

"Kerja kebun (untuk memenuhi kebutuhan), kebun kacang, kebun terong, sayur-sayur gitu lah.(Hasilnya dijual) di pasar Entikong, itu pun kadang nggak laku. Biasanya nggak laku," tuturnya.



Tonton juga video: 'Semangat #17an dan #DIRGAHAYU73 Menggelora di Twitter'

[Gambas:Video 20detik]


(dnu/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed