DetikNews
Jumat 17 Agustus 2018, 03:30 WIB

Derita Romusa (5)

Nestapa Eks Romusa Tetap Jadi Buruh hingga di Akhir Hayatnya

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Nestapa Eks Romusa Tetap Jadi Buruh hingga di Akhir Hayatnya Foto: Anak Romusa Tri Modjo (chaidir/detikcom)
FOKUS BERITA: HUT RI Ke-73
Pekanbaru - Tri Modjo dulunya merupakan eks romusa dari tahun 1942 hingga 1945. Dia bekerja membangun rel di Pekanbaru yang diboyong dari kampung halamannya di Jawa Tengah.

Tri satu di antara puluhan ribu romusa yang membangun rel sepanjang 220 km dari Pekanbaru ke Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Jepang kala itu sukses membuat jalur kereta api sampai ke Pekanbaru untuk mengangkut batubara demi kepentingan kapal perangnya di Singapura.

Kontras dengan Jepang, rakyat Indonesia kala itu hidup menderita menjadi budak penjajahan Jepang. Para romusa saban hari ada saja yang dicambuk hingga berdarah-darah.

"Termasuk bapak saya. Seluruh tubuhnya hingga akhir hayatnya masih membekas cambukan Jepang itu. Dua jarinya putus karena dipukul pakai besi," kata Mislam Bianto (63) anak dari Tri Modjo dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (16/8/2018).


Pasca kemerdekaan Indonesia 1945, Tri sempat kembali ke kampung halamannya di Desa Purworejo di Jawa Tengah. Dia menikah dengan Ponikem dan memutuskan kembali ke Pekanbaru untuk menata biduk rumah tangganya.

Kala itu Tri berjuang mencari pekerjaan di sejumlah bengkel milik Jepang. Saat itu suasana sudah berbeda, karena Jepang sudah kalah dengan Sekutu. Tri juga sempat bekerja di bengkel orang Jepang.

"Lama bapak saya kerja di bengkel itu. Namun akhirnya seluruh Jepang hengkang dari Pekanbaru. Bapaknya tetap bekerja di bengkel itu walau pengelolanya berbeda," kata Mislam.


Roda kehidupan terus berputar. Mislam mengenang ayahnya Tri akhirnya bekerja sebagai buruh bangunan. Pada 1963, Tri berhasil membeli sebidang tanah di Jl Lokomotif yang kini ditempati anaknya.

Pilihan lokasi itu, tak lain karena dulunya Tri romusa yang bekerja di sana. Awal tinggal di lokasi itu, Tri hanya bersama anak istrinya. Belum ada tetangga, kanan kiri masih hutan belantara.

Banyak orang tak berani membangun rumah di kawasan itu. Sebab, kala itu banyak yang tahu lokasi itu merupakan tempat pembuangan mayat romusa.

"Nggak ada yang berani tinggal di sini. Pada takut, karena di ujung jalan Lokomotif bertemu dengan jalan Sisingamangaraja sekarang ini, dulunya tempat pembuangan mayat romusa," kata Mislam.


Kawasan Jl Lokomotif, dulunya dianggap angker. Kawasan itu masih dikelilingi hutan, dan tak ada rumah warga. Baru era tahun 1970-an ke atas, satu persatu warga berdatangan dan membuat rumah di kawasan itu. Sekarang, kawasan itu berada di tengah kawasan kota Pekanbaru.

Tri Mudjo, akhirnya meninggal tahun 1975. Usianya di kala itu sekitar 70 tahun. Diujung hayatnya, bekas-bekas cambuk tentara Jepang masih melekat di sekujur tubuhnya.

"Saat bapak saya meninggal, saya baru kelas lima SD mau naik kelas enam. Sejak bapak meninggal, ekonomi kami sangat terbatas, saya harus berhenti sekolah di Sekolah Teknik (setingkat SMP) kelas dua, kami tak punya uang," kata Mislam.

Mislam juga bercerita, sebelum bapaknya meninggal, ayahnya Tri Mudjo sempat kesurupan. Kesurupan itu diduga kuat kala itu dari tempat pembuangan mayat di kawasan Jl Lokomotif.

"Bapak saya kesambet (kesurupan) ya di situ (tempat pembuangan mayat). Tak lama setelah kesambet, akhirnya meninggal dunia," kenang Mislam.
(cha/ams)
FOKUS BERITA: HUT RI Ke-73
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed