"Penurunan nilai tukar rupiah ini merupakan fenomena regional yang tidak perlu kita khawatirkan, namun tetap tidak boleh membuat kita lengah," kata Rommy.
Apalagi menurut Rommy, cadangan devisa Indonesia cukup dan disokong oleh fudamental ekonomi kita baik. Inflasi juga terkendali, dan pertumbuhan ekonomi masih di atas 5 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski nilai tukar rupiah itu meleset dari asumsi APBN 2018, sesungguhnya setiap penurunan Rp100 rupiah terhadap Dollar itu memberikan netto fiskal terhadap APBN sekitar Rp 300 miliar.
Baca juga: Dolar AS Tahun Depan Diperkirakan Rp 14.400 |
Rommy bandingnya dengan nilai tukar mata uang Turki, Lira, yang mengalami penurunan drastis. Sampai pekan lalu, nilai tukar Lira dibanding 1 Januari 2018 mengalami penurunan hingga 87 persen. Kalau kemudian ada kebijakan Turki berupa boikot produk Amerika Serikat dan menaikkan nilai tukar Lira, namun kurs saat ini masih 40% lebih rendah dibandingkan kurs awal tahun.
"Jadi sesungguhnya rupiah kita masih baik-baik saja, meskipun terjadi penurunan tetapi itu akan meningkatkan daya saing relatif ekspor kita," jelas Rommy.
Penurunan nilai tukar ini biasa digunakan untuk meningkatkan penetrasi ekspor ke kepada pasar-pasar tradisional. (ega/ega)











































