DetikNews
Kamis 16 Agustus 2018, 17:45 WIB

Derita Romusa (3)

Dear Generasi Milenial, Begini Lho Kekejaman Penjajah Jepang

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Dear Generasi Milenial, Begini Lho Kekejaman Penjajah Jepang Foto: Anak Romusa Tri Modjo (chaidir/detikcom)
FOKUS BERITA: HUT RI Ke-73
Pekanbaru - Menjadi romusa pembangunan rel kereta api di Riau, merupakan pekerjaan yang tak manusiawi. Banyak yang mencoba melarikan diri, tapi akhirnya tertangkap. Tentara Jepang menyiksanya seperti binatang.

Tri Mudjo adalah satu di antara puluhan ribu pekerja romusa di Riau. Dari kampung halamannya di Desa Purworejo, Jawa Tengah diboyong Jepang tahun 1942 ke Pekanbaru. Dia dipekerjakan untuk membangun jaringan rel kereta dari Pekanbaru ke Kab Sijunjung, Sumatera Barat, sepanjang 220 Km.

Jaringan kereta api ini, dibangun Jepang untuk mengangkut hasil tambang batubara dari Sumbar ke Pekanbaru. Dalam setahun, rel selesai dibangun. Kereta api pun saban hari mengangkut batubara di bawa ke pelabuhan di tepi sungai Siak, Pekanbaru. Batubara ini untuk pasokan bahan bakar kapal perang Jepang yang ada di Singapura.

Di balik kisah pembangunan jaringan rel ini, sejumlah litaratur menyebutkan ada 80 ribu orang. Mereka dari rakyat Indonesia dan sebagian kecil orang asing khususnya dari Eropa yang ditawan Jepang di Sumatera Barat.

Tri Modjo kala itu tahun 1942, dia mendapat pekerjaan jaringan di Pekanbaru. Beberapa bulan bergabung membangun jaringan, Tri sudah tak tahan menanggung derita.

Bagaimana mungkin dia tahan, saban hari kerja memanggul besi rel, batalan rel serta membangun jembatan kereta. Lokasi yang dibangunnya, saat ini diberi nama Jl Lokomatif, Kec Limapuluh, Pekanbaru.

Jarang dikasih makan, dianiaya bila ada lambat bekerja, membuat Tri cs kala itu bersiasat untuk melarikan diri. Mereka ingin melepaskan belanggu Jepang yang tak manusiawi itu.

"Malam hari bapak saya dan teman-temannya pun melarikan diri. Mereka lari ke hutan, karena kawasan Pekanbaru kala itu masih hutan dan banyak binatang buas," kata Mislam Bianto (63) anak dari Tri Modjo dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (16/8/2018).

Lari ke dalam hutan, para romusa juga tak tahu harus ke mana. Mereka hanya terus berjalan dan berjalan menjauh dari kawasan pembangunan rel. Tak tahu tujuan, yang mereka harapkan tak lagi menjadi romusa.

"Rupanya dalam kebingungan itu, mereka tertangkap tentara Jepang. Mereka diboyong ke kembali ke lokasi pembangunan rel," kata Mislam bapak dari dua orang anak itu.

Sebelum para romusa ini dikerjakan kembali, mereka harus menjalani penyiksaan sebagai bentuk hukuman mencoba melarikan diri. Bagai tak punya harga diri, romusa disiksa seperti binatang.

Cambuk berulang kali mendarat ditubuh mereka. Diseret-seret, dipukuli hingga berdarah-darah. Tak ada yang bisa menolong dari kekejaman tentara Jepang kala itu.

"Jari kelingking dan jari manis bapak saya sebelah kiri putus separuh. Itu karena tangan dipukul pakai besi oleh Jepang gara-gara mereka melarikan diri," kata Mislam.

Dalam kondisi jari penuh darah, Tri cs terpaksa harus kembali bekerja. Mereka akhirnya mendapat pengawasan ketat dari tentara Jepang. Hingga kemerdekaan di proklamirkan pada 17 Agustus 1945, akhirnya romusa berhenti.

Tri, meninggal dunia pada tahun 1975 lalu diperkirakan usianya 70 tahunan. Derita yang dialaminya, selalu menjadi 'dongeng' buat pengantar tidur 5 anaknya.

"Jadi sampai bapak saya meninggal, kedua jarinya putus itu selalu diceritakan. Bekas cambukan di punggung, kaki dan tangan, masih membekas sampai akhir hayatnya," tutup Mislam.



Tonton juga video: 'Heroisme Sukiyarno, Tentara PETA dan Misteri Hilangnya Supriyadi'

[Gambas:Video 20detik]


(cha/asp)
FOKUS BERITA: HUT RI Ke-73
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed