DetikNews
Kamis 16 Agustus 2018, 16:59 WIB

Banyak yang Mengaku Supriyadi PETA, Keluarga Geleng-geleng

Erliana Riady - detikNews
Banyak yang Mengaku Supriyadi PETA, Keluarga Geleng-geleng Adik tiri Supriyadi, Suroto (erliana/detikcom)
Blitar - Adik tiri Supriyadi, Suroto secara tegas membantah Waris Yono adalah Supriyadi. Kakak Suroto merupakan Komandan PETA yang hilang usai melawan Jepang di Blitar.

Suroto secara tegas menyangkal bukti yang ditunjukan Yono. "Simbahe ki kok mbingungne ngene. Pakai penghargaan militer segala. Lha wong Supriyadi ki matine tahun 45 kok (Kakek ini kok membingungkan begitu. Pakai penghargaan militer segala. Supriyadi itu matinya tahun 1945 kok)," kata Suroto menegaskan, Kamis (16/8/2018).

Supriyadi itu, lanjut dia, pendidikannya modern. Dari lingkungan keluarga modern.

"Lha kalau berani berontak terus nggak muncul? Tiba-tiba muncul gini-gini? Ini kan ya nggak masuk akal," imbuhnya.

Suroto mengaku, hanya sekali bertemu muka dengan kakaknya itu. Yakni saat Supriyadi sowan ke rumah bapaknya di Nganjuk, pamitan mau melakukan perlawanan ke Jepang.

Namun semasa dewasa, Suroto banyak membaca dokumen PETA yang dikirimkan ke bapaknya. Darmadi, bapak Supriyadi, merupakan anggota PETA angkatan I. Suroto justru mempertanyakan alibi orang itu menyembunyikan diri demi menyelamatkan dirinya.

"Lha untuk apa menyembunyikan diri? Gek kersane sampean niku nopo to mbah," ujar Suroto sambil tergelak.


Informasi yang dihimpun detikcom, Waris Yono memang pernah beberapa kali muncul di Blitar. Dia mulai datang ke Blitar sejak tahun 2000. Terakhir, keberadaannya tercium di Desa Sukorejo Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar tahun 2016 akhir.

Detikcom sudah berencana menemui Waris Yono. Namun sebelumnya, mencari referensi dengan menemui beberapa sesepuh penganut Aliran Kejawen yang sering berkumpul di Perpustakaan Bung Karno. Saat itu, banyak di antaranya yang bilang Waris Yono bukan Supriyadi.

Suroto sangat meyanyangkan tindakan orang yang mengaku sebagai kakaknya itu. Karena keluarganya meyakini, Supriyadi telah meninggal dunia.

"Kakak saya pejuang sejati. Berani angkat senjata berarti berani mati dalam kondisi apapun juga. Untuk apa coba lari, lalu mukso itu. Untuk apa coba dipikirkan lagi," tandas Suroto sedikit emosi.

Pengungkapan sejarah perjuangan PETA, akan meringankan beban moril keluarga Supriyadi. Namun menurutnya, sebuah bangsa akan besar jika belajar dari sejarah perjuangannya.

"Lalu bagaimana bangsa ini akan maju jika sejarahnya dikaburkan, ditutupi, bahkan dihilangkan," pungkasnya.


Tonton juga video: 'Heroisme Sukiyarno, Tentara PETA dan Misteri Hilangnya Supriyadi'

[Gambas:Video 20detik]


(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed