Derita Romusa (2)

Kejamnya Penjajahan Jepang: Romusa Sakit, Tembak Mati!

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Kamis, 16 Agu 2018 16:44 WIB
Foto: Anak Romusa Tri Modjo (chaidir/detikcom)
Pekanbaru - Bekerja sebagai romusa hanya menyisakan penderitaan yang abadi. Tak boleh sakit. Bila sakit berarti hari itu juga nyawa melayang.

"Bapak saya cerita, dia bersama kawan-kawannya bekerja di bawah tekanan yang tak manusiawi. Jangan pernah sakit lantas berhenti bekerja. Berhenti bekerja berhenti juga nyawanya," kata Mislam Bianto (62) anak dari Tri Modjo dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (15/8/2018).

Tri Modjo usai mudanya satu di antara puluhan ribu manusia bekerja romusa membangun rel kereta api dari Pekanbaru hingga ke Kab Sijunjung, Sumatera Barat. Rel sepanjang 220 Km itu dalam setahun dari 1942 hingga 1943 selesai dibangun Jepang. Tri Modjo diboyong Jepang dari Jawa untuk dipekerjakan di Pekanbaru bangun jaringan rel kereta api Jepang.


Mislam menceritakan, sang ayah menyaksikan sendiri bagaimana rekan-rekan pekerja romusa harus meregang nyawa. Kerja yang keras membangun rel banyak yang jatuh sakit. Karena mereka bekerja tanpa mengenal istirahat.

Kondisi kerja yang sangat tak manusiawi, hanya diberikan pakaian karung goni yang berkutu, jarang dikasi makan, tak sedikit bekerja selama enam bulan pertama langsung jatuh sakit.

"Kata bapak saya, jika ada yang sakit tak mampu bekerja lagi, tentara Jepang langsung menembak mati di hadapan para pekerja romusa," kata Mislam mengisahkan masa lalu ayahnya.

Tri Modjo ketika bekerja membangun rel kereta api di Pekanbaru, tak tahu lagi menghitung orang yang mati karena sakit. Kadang malah, rekan sepekerjannya asal Desa Purworejo Jawa Tengah, harus Tri yang membuangnya ke sungai di sekitaran Jl Lokomotif di Pekanbaru saat ini.

"Kata bapak, dia kadang memboyong jasad temannya sendiri yang mati ditembak Jepang karena kondisi sakit. Dipaksa disuruh buang ke sungai," kata Mislam.


Selama bekerja, Tri Modjo cs juga tidak diberikan barak untuk istirahat. Mereka hanya diberikan istirahat sejenak tengah malam. Itu pun mereka tidur beralaskan perut bumi alias tidur di tanah di pinggir bangunan rel kereta api.

"Tak ada tempat tidur yang layak. Ya kata bapak saya, tidur tengah malam sejam dua jam saja. Itu pun buat tendanya dari kardus-kardus di samping rel," kata Mislam.

"Kata bapak saya, dia merasa pedih hatinya, menyaksikan kawan-kawannya harus mati ditembak hanya karena sakit. Ditembak di depan mata bapak saya. Kata bapak saya, kerja romusa hanya ada penderitaan, nyawa dan air mata," tutup Mislam.



Tonton juga video: 'Heroisme Sukiyarno, Tentara PETA dan Misteri Hilangnya Supriyadi'

[Gambas:Video 20detik]

(cha/asp)