"Bukan tidak mungkin hal yang sama juga akan dilakukan kepada Indonesia yang sedang dicari-cari persoalannya agar tidak mendapatkan fasilitas Generalized System of Preferences (GSP)," ujar Rommy dalam keterangan tertulis, Rabu (15/8/2018).
Selain AS, Uni Eropa juga berusaha menerapkan trade barrier bagi Indonesia. Hal ini, menurut Rommy, terlihat dari upaya Uni Eropa yang mencegah pemasukan produk minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) asal Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Uni Eropa ini sebenarnya ingin melindungi petani biji bunga matahari yang akan dijadikan pengganti CPO. Ini merupakan kebijakan populis bagi mereka dan saat ini populisme merebak di banyak negara," tambah Rommy.
Ia juga menyebut jika trade barrier ini dialami Indonesia, neraca perdagangan Indonesia bisa mengalami defisit lebih dalam. Apalagi dalam semester pertama ini Indonesia mengalami defisit perdagangan yang cukup besar.
Menurutnya, defisit perdagangan yang terjadi ditambah dengan adanya defisit pembayaran membuat nilai tukar rupiah atas Dollar AS saat ini melemah.
Melihat hal itu, Rommy pun meminta Indonesia untuk lebih bekerja keras dalam meningkatkan ekspor. Selain melakukan upaya tersebut, Rommy pun meminta pemerintah melakukan inovasi, hilirisasi industri, dan membuka pasar non tradisional.
Menurutnya, inovasi ini sekarang sudah dilakukan oleh salah satu perusahaan di Indonesia, yakni Gojek yang sudah merambah ke negara lain. Apalagi perusahaan ini mendapatkan investasi langsung luar negeri yang membantu menekan defisit pembayaran.
"Inovasi lain ditunjukkan oleh Markobar, perusahaan milik anak Pak Jokowi yang membuka franchise di Filipina," pungkas Rommy. (idr/idr)











































