DetikNews
Selasa 14 Agustus 2018, 19:40 WIB

Ahli Kimia hingga Novelis Terima Penghargaan Achmad Bakrie 2018

Mochamad Zhacky - detikNews
Ahli Kimia hingga Novelis Terima Penghargaan Achmad Bakrie 2018 Konferensi pers pemberian Penghargaan Achmad Bakrie 2018 (Mochammad Zhacky/detikcom)
Jakarta - Empat tokoh berbeda bidang mendapatkan Penghargaan Achmad Bakrie 2018. Penghargaan Achmad Bakrie 2018 ini diberikan dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-73.

Pemberian Penghargaan Achmad Bakrie dilaksanakan di Ballroom Djakarta Theater, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (14/8/2018). Ardiansyah Bakrie, yang merupakan ketua penyelenggara, hadir dalam acara tersebut.

"Esensinya diambil tiga kunci, 'Bakrie', 'bermanfaat', dan 'orang banyak', menjadi Bakrie Untuk Negeri," kata Ardi Bakrie menjelaskan kriteria penerima Penghargaan Achmad Bakrie saat jumpa pers.


Ardi menuturkan para pihak yang menerima Penghargaan Achmad Bakrie merupakan tokoh yang berkarya di bidang masing-masing dan karya tersebut berguna untuk masyarakat. Selain itu, para penerima penghargaan memiliki nilai dasar Trimatra Bakrie.

"Trimatra Bakrie ini melambangkan tiga pilar kehidupan manusia: kecerdasan spiritual, kecerdasan intelektual, dan kecerdasan emosional," terang Ardi Bakrie.

Adapun tokoh-tokoh yang menerima Penghargaan Achmad Bakrie adalah Salim H Said, Ayu Utami, Ferry Iskandar, dan Achmad Zaky.


Salim H Said merupakan tokoh yang terkenal dengan pemikiran gerakan politik TNI. Ayu Utami merupakan seorang novelis yang terkenal dengan buku berjudul 'Saman'.

Ketiga adalah Ferry Iskandar, yang merupakan penemu senyawa kimia bernama boron karbon oksinitrida (BCNO). Tokoh terakhir ialah Achmad Zaky, pendiri Bukalapak.

Penghargaan Achmad Bakrie sendiri merupakan kegiatan tahunan. Penghargaan Achmad Bakrie selalu diberikan dalam 16 tahun terakhir. Total, ada 69 individu dan tiga institusi yang menerima penghargaan tersebut.

Sebelumnya penghargaan ini pernah menuai kontroversi lantaran ditolak oleh beberapa penerimanya. Mereka yang menolak di antaranya adalah Rohaniwan Katolik Romo Magnis menolak penghargaan dan diikuti oleh Daoed Joesof di tahun 2010, penyair Sitor Situmorang, penyair dan sastrawan Goenawan Mohammad pernah menerima di tahun 2004 namun dikembalikan lagi pada 2011 lalu. Sastrawan Seno Gumira Ajidarma yang dikenal dengan buku 'Jazz, Parfum, dan Insiden' itu juga menolak di tahun 2012.
(zak/rna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed