DetikNews
Selasa 14 Agustus 2018, 17:20 WIB

Koalisi Pejalan Kaki Minta 30 JPO di Jakarta Dirobohkan

Mei Amelia R - detikNews
Koalisi Pejalan Kaki Minta 30 JPO di Jakarta Dirobohkan Ilustrasi JPO (Eva Savitri/detikcom)
Jakarta - Koalisi Pejalan Kaki mendukung fasilitas pelican crossing untuk menyeberang jalan. Jembatan penyeberangan orang (JPO) yang ada di Jakarta dinilai sudah tidak ramah dan tidak berkeadilan.

"Dari awal, Koalisi Pejalan Kaki menginginkan banyak JPO di Jakarta dirobohin," kata Koordinator Koalisi Pejalan Kaki Alfred saat dihubungi detikcom, Selasa (14/8/2018).

JPO memang dibutuhkan untuk membantu pejalan kaki menyeberang jalan, terutama di jalan yang lalu lintasnya cukup padat. Akan tetapi, saat ini JPO yang ada tidak memberikan rasa keadilan bagi para pejalan kaki.

"Karena anak tangganya cukup curam, bagaimana dengan disabilitas yang juga perlu menyeberang jalan, kemudian ibu hamil dan manula," ungkapnya.

Dari hasil pencatatan komunitasnya, ada 30 JPO yang dinilai tidak manusiawi. Ia pun meminta agar ketiga puluh JPO itu dirobohkan dan diganti pelican crossing.


"Tiga puluh JPO itu tersebar di 5 wilayah Kota Jakarta, seperti di Lenteng Agung, di jalan samping gedung Strategic Square, Pasar Minggu, JPO di UI, jadi banyak sekali," ujarnya.

Kalaupun tidak dirobohkan, ia meminta pihak Pemprov DKI Jakarta membuatkan ramp di JPO tersebut. Dengan begitu, JPO bisa diakses setiap pejalan kaki.

"Dibuatkan ramp-nya atau lift deh, sehingga JPO itu aksesibel," lanjutnya.

Di beberapa negara tetangga, JPO dilengkapi lift hingga eskalator. Namun Alfred menilai pembangunan eskalator tidak diperlukan karena dikhawatirkan malah rusak dan tidak terawat.

Alfred mencontohkan keberadaan lift di JPO Sarinah dan Tosari yang tidak berfungsi karena kurangnya perawatan.

"Sebenarnya, lift atau eskalator itu ibarat momong bayi baru lahir karena itu perlu perawatan. Kita punya pengalaman buruk lift di JPO Sarinah dan Tosari itu nggak bisa digunakan. Kalau (lift di) Tosari itu dibuatkan oleh UOB, kami sayangkan karena tidak dirawat, kalau nggak bisa merawat, kembalikan pakai ramp," paparnya.

Untuk situasi lalu lintas Jakarta saat ini, Alfred menilai fasilitas pelican crossing lebih cocok. Ia meminta semua pihak saling menghormati hak masing-masing saat berada di pelican crossing.

"Itu tugas kita juga, jangan semua-semua pejalan kaki benar, kalau ada pejalan kaki yang tidak tertib harus diedukasi, di situ perlunya toleransi. Kalau lampu merah untuk pejalan kakinya, ya kasih kesempatan kepada pejalan kaki, begitu juga sebaliknya," lanjutnya.

Satu hal yang dikiritik Alfred dari pelican crossing adalah soal durasi waktu melintas bagi pejalan kaki. Menurutnya, waktu lampu hijau bagi pejalan kaki di pelican crossing perlu ditambah agar bisa memberikan waktu bagi penyandang disabilitas.

"(Durasi) lampu kurang kalau hanya 13-15 detik, agar dipertimbangkan untuk ditambah agar memberikan kesempatan bagi disabilitas untuk menyeberang," tandasnya.



Tonton juga video: 'JPO Bundaran HI Dibongkar'

[Gambas:Video 20detik]





(mei/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed