"Alhamdulillah tadi siang mereka datang dan langsung meninjau lokasi sekaligus mencari titik mata air di sini. Katanya Pak Menteri sudah membaca beritanya soal itu," kata Kepala Desa Ampekale, Abdul Rahim, Selasa (14/8/2018).
Baca juga: Jelang Kemarau, BNPB Kerahkan 5 Heli ke Riau |
Setelah hari ini, data pemeriksaan lapangan akan dikirim dan diuji oleh Badan Geologi di Bandung. Hasilnya akan keluar satu bulan mendatang. Ia berharap, pasca adanya hasil pemeriksaan itu, warga bisa segera mendapatkan solusi atas permasalahan mereka secara turun temurun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Sebelumnya, ratusan warga di pesisir wilayah Maros, Sulawesi Selatan mulai mengalami krisis air bersih akibat kemarau sejak dua bulan lalu. Warga pun terpaksa menggunakan air empang yang kotor dan keruh untuk keperluan sehari-hari, seperti untuk mandi dan mencuci.
Mereka terpaksa menggunakan air empang yang juga dipakai hewan ternak untuk minum. Pasalnya, air bersih hanya bisa mereka peroleh dengan membeli dari warga yang memiliki mobil pengakut air dan bak penampungan. Air bersih yang mereka beli itu, hanya digunakan untuk minum dan juga memasak.
"Sudah hampir dua bulan kondisinya begini. Air ini kita gunakan untuk mandi dan mencuci. Tapi kami kasi tawas dulu biar tidak keruh. Kalau untuk minum, kami beli dari pengatar air. Harganya itu lima ribu rupiah untuk tiga jerigen ukuran 10 liter," kata seorang warga, Sintia.
Kondisi yang dialami oleh warga ini sudah setiap tahun dirasakan saat musim kemarau. Selain karena wilayahnya berada di dekat laut yang nyaris tidak ada mata air bersih, aksesnya yang jauh juga membuat pemerintah tidak bisa memasang instalasi air bersih dari perkotaan.
Tonton juga video: 'Warga Ciamis Kesulitan Air Bersih'
(asp/asp)












































