DetikNews
Jumat 10 Agustus 2018, 22:12 WIB

Standby Call Calon Pejabat ala Istana

Jabbar Ramdhani - detikNews
Standby Call Calon Pejabat ala Istana Duet Jokowi-Ma'ruf Amin (Mindra Purnomo/detikcom)
Jakarta - Banyak yang bilang dipilihnya KH Ma'ruf Amin sebagai cawapres Joko Widodo (Jokowi) sebagai plot twist. Tak ada yang menduga Jokowi memilih Ketua Umum MUI tersebut.

Bukan tanpa sebab ungkapan tersebut keluar. Pasalnya, sejak Kamis (9/8) sore, perhatian tersorot pada sosok mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud Md.

Mahfud sendiri sempat berada di sebuah restoran di kawasan Menteng untuk menggelar deklarasi sebagai cawapres Jokowi. Sebelum itu, Mahfud juga sempat melakukan persiapan lainnya.


Diketahui, Mahfud sempat menyiapkan curriculum vitae (CV), mengepas kemeja putih, hingga mengurus surat keterangan tidak pernah sebagai terpidana di Pengadilan Negeri Sleman. Pada Kamis (9/8) pagi, Mahfud dikontak Mensesneg Pratikno untuk stand by.

"Kalau resminya tadi pagi diminta CV. Tadi malam lalu diberi tahu untuk stand by. Tadi pagi jadinya diminta CV," kata Mahfud kepada detikcom, Kamis (9/8) sore.

Tak lama kemudian, Jokowi bersama ketum-ketum parpol koalisi bertemu untuk rapat di Restoran Plataran Menteng. Jokowi kemudian mengumumkan cawapresnya ialah Ma'ruf Amin dan langsung meneken dokumen capres-cawapres.


Ketua Korbid Pemenangan Pemilu Jawa dan Sumatera Golkar Nusron Wahid pun tak menduga atas keputusan ini. Nusron saat itu berada di restoran yang sama dengan Mahfud.

Restoran itu hanya berjarak 500 meter dari lokasi Jokowi melakukan deklarasi. Pihak Istana meminta Mahfud untuk stand by di lokasi tersebut.

"Ya, kalau mendadak, ya mendadak. Karena tadi jam 3 sore kami di sini itu Pak Mahfud sudah siap ditelepon dari pihak Istana siap-siap stand by cari tempat transit di kawasan Menteng," ujar Nusron di Restoran Plataran Menteng, Jalan HOS Cokroaminoto, Jakarta Pusat, Kamis (9/8/2018).


"Dari Tesate, saya ngerokok di sini, tiba-tiba Pak Mahfud pulang. Karena saya mau ikut deklarasi, saya tetap di situ sampai nunggu pengumuman, ternyata pengumumannya beda, bukan Pak Mahfud yang diumumin," terang Nusron.

Hal serupa diakui Ma'ruf, yang ditunjuk sebagai cawapres. Ma'ruf pun mengaku terkejut.

"Alhamdulillah, saya tanpa diduga ternyata dipilih sebagai calon wakil presiden Pak Jokowi," ujar Ma'ruf saat jumpa pers di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (9/8/2018).


Ma'ruf juga mengaku menerima standby call dari Istana. Rais Aam PBNU itu juga mendapat tawaran menjadi cawapres Jokowi dari Mensesneg Pratikno.

"Tadi ditelepon lewat Pak Sesneg, ya sebelumnya kan ditanya saya mau nggak jadi cawapres alternatif. Baru alternatif," ujar Ma'ruf di lokasi yang sama.

Ma'ruf mengakui memang mendapat banyak isyarat soal dipilihnya ia menjadi cawapres. Dia mengaku tidak pernah mendapat tawaran langsung dari Jokowi untuk menjadi cawapres. Pada saat itu, awalnya Ma'ruf juga tak sepenuhnya percaya.


"Iya, isyarat-isyarat ada. Dari sebelah sini ada, dari sebelah ini ada. Ini kayaknya mengarahnya kepada Pak Kiai, baru ngarang," ucapnya.

Sebelumnya, nama cawapres Jokowi memang tidak terlihat terang. Pasalnya, para elite parpol pendukung Jokowi hanya menyebut cawapres Jokowi berinisial 'M'.

Sementara itu, di luar nama Ma'ruf dan Mahfud, ada nama Ketum PKB Muhaimin Iskandar hingga Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko.


Jokowi pun pernah secara langsung mengungkapkan hal serupa. Saat dimintai konfirmasi wartawan, Jokowi pun menjawab dengan canda yang membuat nama cawapresnya semakin misterius.

"Depannya pakai 'M'," kata Jokowi menjawab pertanyaan wartawan di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu (8/8/2018).

"Mbak Puan juga pakai 'M'. Mas Airlangga juga pakai 'M'," kata Jokowi tersenyum.

Standby call ini juga pernah dialami Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. Saat itu, Hadi juga mendapatkan last minute call untuk menggantikan Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.
(jbr/elz)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed