DetikNews
Jumat 10 Agustus 2018, 21:38 WIB

Sepakat Koalisi, PAN Tuntut PD Minta Maaf soal Tudingan Mahar

Elza Astari Retaduari - detikNews
Sepakat Koalisi, PAN Tuntut PD Minta Maaf soal Tudingan Mahar Saleh Daulay (Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta - Partai Demokrat (PD) resmi berkoalisi dengan Gerindra-PAN-PKS mengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno untuk Pilpres 2019. Tapi PAN tetap menuntut PD meminta maaf atas tudingan mahar Rp 500 miliar agar Sandiaga Uno bisa terpilih sebagai cawapres Prabowo.

"Kami mengapresiasi pilihan Partai Demokrat untuk bergabung mengusung dan mendukung Prabowo Subianto-Sandi. Dukungan tersebut diharapkan akan semakin memantapkan langkah untuk meraih kemenangan," ujar Wasekjen PAN Saleh Daulay kepada detikcom, Jumat (10/8/2018).

Wasekjen PD Andi Arief sempat melemparkan tudingan Sandiaga membayar PKS dan PAN Rp 500 miliar supaya mendapat restu menjadi pendamping Prabowo. Baik Gerindra, PAN, dan PKS sudah membantah tudingan itu. Saleh menyoroti hal tersebut mengingat kini PD telah masuk koalisi bersama Gerindra-PKS-PAN.

"Sebelum melangkah lebih jauh, sebaiknya persoalan-persoalan tarik-menarik dan isu-isu di belakangnya perlu diselesaikan dengan baik-baik. Kemarin kan ada isu yang tidak baik. Misalnya, ada tuduhan yang menyebutkan bahwa PAN, PKS, dan Gerindra menerima mahar masing-masing Rp 500 M," sebutnya.


Saleh menuntut Demokrat meminta maaf. Hal tersebut, menurutnya, agar tidak membuat hubungan di koalisi menjadi tidak enak atau canggung.

"Pernyataan ini tentu harus dicabut dan yang menyampaikannya diminta untuk meminta maaf. Ini penting untuk membuat semua merasa lega dan rela atas keputusan yang ada ini," ujar Saleh.

Demokrat hampir saja tidak jadi ikut berkoalisi dengan Gerindra cs lantaran kecewa karena kadernya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), tak dipilih sebagai cawapres. Menurut Saleh, partai koalisi yang lain merasakan hal sama.

"Kalau soal aspirasi yang belum tersalurkan, saya kira masing-masing partai juga mengalaminya. Namun, di tengah konstelasi dan dinamika politik yang seperti ini, semua harus bisa mengalah dan saling memberi. Dengan begitu, kesatuan visi dan pandangan dalam membangun Indonesia yang lebih maju dan sejahtera mendapat prioritas utama dan tertinggi," kata Wakil Ketua Komisi IX DPR itu.

"Kalau mau menang, memang harus bersatu. Tidak boleh ada sekat-sekat di antara para partai pendukung. Termasuk tentunya isu-isu yang sempat membuat gerah," tambah Saleh.


Dia sekali lagi meminta Demokrat meminta maaf karena kisruh pernyataan Andi Arief. Bukan hanya tudingan soal mahar, Andi juga menyebut Prabowo sebagai jenderal kardus.

"Meminta maaf itu saya kira jalan yang paling mudah dilakukan. Kami pun tentu tidak akan terlalu mempersoalkan jika memang ada permintaan maaf tersebut. Kami tentu sangat memahami apa yang dihadapi dan dirasakan teman-teman di Partai Demokrat. Tetapi itulah realitas politik. Tidak selamanya sesuai dengan harapan," tutur Saleh.

Sebelumnya diberitakan, Andi Arief berang di last minute pendaftaran Pilpres 2019. Meski pada akhirnya merapat ke Prabowo, PD sempat memperlihatkan ketidaksukaannya atas dipilihnya Sandi sebagai cawapres.

"Prabowo ternyata kardus. Malam ini kami menolak kedatangannya ke Kuningan. Bahkan keinginan dia menjelaskan lewat surat sudah tak perlu lagi. Prabowo lebih menghargai uang ketimbang perjuangan. Jenderal kardus," kata Andi Arief, Rabu (8/8/2018).

"Di luar dugaan kami, ternyata Prabowo mementingkan uang ketimbang jalan perjuangan yang benar. Sandi Uno yang sanggup membayar PAN dan PKS masing-masing Rp 500 M menjadi pilihannya untuk cawapres," imbuhnya.
(elz/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed