Praktek Pembunuhan Janin Perempuan Merajalela di India
Kamis, 04 Agu 2005 17:24 WIB
Jakarta - Sebuah skenario film mengena langsung ke masyarakat India. Mengambil seting beberapa tahun mendatang, di sebuah desa di India timur, hanya ada beberapa perempuan yang belum menikah, sementara pria yang melajang jauh lebih banyak. Akibatnya, lima pria bersaudara menikahi seorang perempuan. Kejadian di atas mungkin cuma imajinasi pembuat film Bollywood. Namun menurut kalangan aktivis, film berjudul "Matrubhoomi" itu sebuah seruan kesadaran untuk India, yang diwarnai dua kejahatan paling mengerikan terhadap kaum perempuan: pembunuhan bayi dan janin perempuan."Pembunuhan bayi mungkin masih ada di kantong-kantong kecil, tapi pembunuhan janin kian merajalela," tukas Akhila Shivdas dari Pusat Advokasi dan Riset India seperti dikutip AFP, Kamis (4/8/2005). "Mereka beranggapan, kenapa harus menunggu sembilan bulan untuk menyingkirkan seorang bayi perempuan kalau mereka bisa melakukannya dalam delapan pekan saja," imbuhnya.Para pakar India mengungkapkan, rasio jumlah perempuan di negeri itu berkurang menjadi 933 orang untuk setiap 1.000 pria pada tahun 2001. Jumlah ini menurun dibandingkan tahun 1961 yang tercatat sebanyak 941 perempuan. Penurunan ini sebagian besar dikarenakan adanya praktek pembunuhan bayi perempuan, dan belakangan ini, yang kian menjadi-jadi adalah aborsi janin perempuan.Tren ini meresahkan pemerintah India. Sampai-sampai pemerintah mengeluarkan aturan bahwa tes determinasi jenis kelamin saat hamil adalah ilegal. Namun aturan tinggal aturan. Banyak warga India yang melakukannya secara diam-diam. Dan banyak keluarga yang menggugurkan janin perempuan.Kenapa begitu? Banyak keluarga India lebih memilih anak laki-laki karena mereka dianggap sebagai jaminan di masa tua. Sebaliknya, anak perempuan akan meninggalkan rumah ketika mereka menikah dan membawa mahar yang besar dalam bentuk uang, properti atau barang-barang lain, seperti kulkas dan motor.Meski dinyatakan terlarang, namun banyak klinik yang diam-diam menawarkan tes jenis kelamin janin dengan hanya membayar 500 rupee. Bahkan spanduk bertuliskan: "Bayar 500 rupee sekarang dan menghemat 50.000 rupee nanti" bisa ditemui di beberapa bagian wilayah India. Kalimat ini mengacu ke soal mahar yang harus dibayar orangtua yang ingin menikahkan anak perempuan mereka. Dan ternyata bukan cuma keluarga miskin pedesaan yang lebih mengharapkan anak laki-laki. Sebuah studi lokal mengungkapkan, pembunuhan janin perempuan juga marak di ibukota New Delhi, terutama pada keluarga-keluarga yang sudah memiliki lebih dari satu anak perempuan.
(ita/)











































