Bertemu SBY, Anggota Kongres AS Tegaskan Dukung NKRI

Bertemu SBY, Anggota Kongres AS Tegaskan Dukung NKRI

- detikNews
Kamis, 04 Agu 2005 12:03 WIB
Jakarta - Isu sejumlah anggota kongres AS menggosok-gosok agar Papua terlepas dari Indonesia hanya sensasi. Seorang anggota Kongres AS, Robert Wexler, menegaskan AS mendukung keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Penegasan Robert Wexler ini disampaikan kepada wartawan seusai bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Kantor Presiden, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (4/8/2005). Wexler bertemu SBY dengan didampingi Duta Besar AS untuk RI, Lynn Pascoe. Wexler merupakan anggota kongres AS yang tergabung dalam Kaukus Indonesia. Wexler juga merupakan Senior Member of International Relation Committee. Pertemuan Wexler dengan SBY berlangsung sekitar 40 menit, dari pukul 09.30 hingga pukul 10.10 WIB. Salah satu agenda yang dibahas adalah isu Kongres AS yang mempermasalahkan status Papua yang meragukan keabsahan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 lalu. Menurut Wexler, kebijakan AS sudah sangat jelas, yaitu mendukung keutuhan NKRI. Karena itu, dia berharap isu soal Papua itu akan bisa terselesaikan dengan baik. Berikut petikan wawancara Wexler dengan wartawan:Bagaimana sebenarnya sikap AS soal Papua? Kebijakan AS sudah sangat jelas, kami mendukung keutuhan wilayah NKRI. Kami menentang setiap gerakan separatisme apa pun di wilayah RI. Kebijakan ini sudah disampaikan secara langsung oleh Bush kepada Presiden SBY dalam kujungannya ke AS beberapa waktu lalu. Terkait dengan munculnya anggota Kongres AS yang mempermasalahkan status Papua? Kita berharap isu ini akan dapat diselesaikan dengan cara yang baik dalam waktu dekat. Tentang Selat Malaka. Bagaimana dengan keinginan AS untuk berpartisipasi mengamankan Selat Malaka, sementara 3 negara Indonesia, Singapura, dan Malaysia, hanya meminta bantuan teknis, bukan militer?AS menginginkan untuk berperan dalam mengamankan perairan Indonesia dan tetangga-tetangganya. Memang benar demikian. Bukan hanya AS, tapi juga Korsel, Jepang dan Cina. Kami sangat berkepentingan dengan keamanan Selat Malaka, sebab armada kapal dagang kami selalu melewati jalur ini. Karenanya kami menginginkan stabilitas keamanan di wilayah itu. (asy/)


Berita Terkait