Jokowi dan Rommy Kompak Bicara Islam Moderat di Depan Ulama

Jokowi dan Rommy Kompak Bicara Islam Moderat di Depan Ulama

Robi Setiawan - detikNews
Rabu, 08 Agu 2018 17:30 WIB
Jokowi dan Rommy Kompak Bicara Islam Moderat di Depan Ulama
Foto: Dok. PPP
Jakarta - Saat memberikan sambutan dalam pembukaan Pelatihan Kader Ulama XII di Gedung Tegar Beriman, Kabupaten Bogor, Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum PPP, M. Romahurmuziy sama-sama membahas soal Islam moderat. Dalam kesempatan itu, keduanya menyinggung tentang perlunya menjaga dan mengembangkan Islam moderat di Indonesia.

Romahurmuziy menyebutkan bahwa umat Islam diciptakan untuk menjadi umat di tengah agar bisa menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Menjadi berada di tengah atau moderat, menurutnya penting agar bisa berbuat adil kepada golongan lain dan tidak mudah menyalahkan.

Ia menjelaskan, Islam di Indonesia sejak awal disebarkan dengan cara moderat. Hal ini terlihat dari dakwah para wali. Dia mengatakan, dari nama mereka yang disebut sunan berasal dari kata Susuhunan dalam bahasa Jawa.

"Dalam menyebarkan Islam, para sunan memperhatikan adat istiadat setempat. Tidak heran jika misalnya Sunan Kudus memuliakan sapi yang dianggap suci oleh masyarakat yang saat itu mayoritas beragama Hindu," jelas pria yang akrab disapa Rommy itu dalam keterangan tertulis, Rabu (8/8/2018).


Bukan hanya di Jawa, Rommy menyebut cara moderat ini bisa dilakukan di semua daerah seperti Sunda, Sumatera dan lainnya.

Sementara itu Jokowi dalam sambutannya, menyebutkan bahwa Indonesia berpenduduk lebih dari 260 juta jiwa yang mayoritas beragama Islam. Di sisi lain, Indonesia sangat beragam itu terlihat dari adanya ribuan pulau dan ribuan bahasa lokal serta budaya yang berkembang.

Dalam berbagai kesempatan internasional Jokowi juga mengaku selalu menyampaikan bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Jokowi mengingatkan kepada kader ulama agar terus menyebarkan kebaikan lewat dakwah, bukan justru saling curiga dan menjelekkan.

"Jangan gampang kita ini, jangan gampang curiga, berprasangka tidak baik, berprasangka buruk, apalagi sampai ke fitnah. Sangat berbahaya bagi bangsa sebesar Indonesia. Saya titip pada kader-kader ulama, yang dikembangkan adalah husnul tafahum (berpemahaman baik), bagaimana berprasangka baik, berpikir penuh kecintaan. Ini yang harus dikembangkan," ucapnya.


(idr/ega)


Berita Terkait