Cawapres dari Ulama Jadi Strategi Imbangi Tingkat Kesalehan Capres

Audrey Santoso - detikNews
Rabu, 08 Agu 2018 08:30 WIB
Foto: Ray Jordan/detikcom
Jakarta - Pengamat politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio mengatakan wacana calon wakil presiden (cawapres) dari kalangan ulama adalah tren di Pemilihan Presiden 2019. Tren itu muncul karena isu agama yang menarik masyarakat dan kandidat capres dianggap belum cukup mencitrakan diri sebagai sosok yang religius.

"Ya ini memang strategi ya, memang (strategi yang) harus diikuti jadinya. Karena begini, yang pertama kalau dari hasil survei itu (diskusi) kedai KOPI, terutama agama ini menjadi pertimbangan," kata Hendri ketika dihubungi detikcom, Rabu (8/8/2018).


"Kedua, pada saat ditanya persepsi publik tentang Prabowo dan Jokowi, itu dua-duanya dianggap belum memiliki tingkat relijiusitas yang tinggi, dianggapnya tingkat salehnya belum tinggi," ujar Hendri.

Menurut Hendri, sosok cawapres dari ulama menjadi strategi politik kandidat capres untuk menutup anggapan tersebut. "Alasannya biar seimbang," sambung Hendri.


Hendri berharap strategi ini menjadi pilihan tepat bagi para kandidat capres. Pandangan Hendri, kemunculan tren cawapres dari kalangan ulama adalah hal yang sah-sah saja karena setiap momen pilpres memiliki warna sendiri.

"Nah (cawapres dari kalangan ulama) ini mudah-mudahan biar bisa menjadi strategi yang tepat. Tapi memang tren pilpres itu kan berbeda-beda tiap tahun. Zamannya SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) beda, zamannya Mega (Megawati Soekarnoputri) beda, zamannya jokowi juga beda. Jokowi 2014 sama yang sekarang kan juga beda," tutur dia.




Tonton juga video: 'KPU Minta Paslon Daftar Pilpres Sebelum 'Injury Time''

[Gambas:Video 20detik]



Cawapres dari Ulama Jadi Strategi Imbangi Tingkat Kesalehan Capres
(aud/nkn)