DetikNews
Selasa 07 Agustus 2018, 21:01 WIB

Fakta Fenomena Semburan Air 30 M di Ngawi

Sugeng Harianto, Hilda Meilisa Rinanda - detikNews
Fakta Fenomena Semburan Air 30 M di Ngawi Semburan air di Ngawi, Jawa Timur. (Sugeng Harianto/detikcom)
Ngawi - Semburan air setinggi 30 meter dari sumur pompa air milik Mujianto (45) di Ngawi, Jawa Timur, membuat geger dan menarik perhatian warga. Namun rupanya fenomena semburan air seperti itu kerap terjadi.

Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Jatim Moch Sholeh menjelaskan fenomena itu terjadi karena daerah tersebut memiliki posisi tanah antiklinal atau posisinya lebih tinggi daripada bagian lipatan lain. Jika terjadi retak, otomatis air akan menyembur.

"Di Ngawi dan Madiun itu banyak posisi tanah yang antiklinal. Jadi di situ banyak jebakan gas. Jadi, ketika ada gerakan tanah itu retak, waktu posisi di bawah itu dia akan menyembur," kata Sholeh saat dihubungi detikcom di Surabaya, Selasa (7/8/2018).


Oleh sebab itu, wajar jika saat tanah retak, yang keluar tak hanya air, tapi juga lumpur, pasir, hingga gas. Meski begitu, dia belum menemukan kandungan gas dalam semburan air tersebut.

"Di sana sementara kemarin waktu dicek itu tidak mengandung gas, murni air dan lumpur saja. Tapi nanti secara riilnya akan kami lihat bagaimana," tambahnya.

Dia juga mengimbau warga agar tidak mengambil air dari semburan tersebut. Sebab, kebersihan air tersebut tidak terjamin.

"(Fenomenanya) masih aman, tapi warga diimbau tidak mengambil air karena kan bercampur lumpur sama pasir. Itu kan kotor karena itu bukan air untuk mandi dan minum, tapi untuk irigasi sawah," jelasnya.
Garis batas polisi dipasang di sekeliling lokasiGaris batas polisi dipasang di sekeliling lokasi. (Sugeng Harianto/detikcom)


Dia menambahkan semburan air itu bakal surut dalam waktu tiga hari. Jika tiga hari semburan di Ngawi belum juga surut, pihaknya bakal menerjunkan tim.

"Biasanya waktu dulu itu tiga hari kan dia sudah hilang. Makanya kami sedang menunggu kabar dari BPBD bagaimana kondisi itu. Jika (semburan air) belum (berhenti), kami akan menurunkan tim ke sana," ucap Sholeh.


Uniknya, jauh sebelum semburan air dan lumpur ini muncul, di lokasi yang sama pernah terjadi peristiwa serupa pada 2013. Kala itu, yang menyembur bukan air dan lumpur, melainkan gas.

"Dulu pernah kejadian pula semburan, tapi gas. Juga di Desa Sidolaju ini. Sekitar 2013, tepat di bawahnya saluran udara tegangan ekstratinggi (SUTET)," ungkap Kepala Desa Sidolaju Wagi Suprayitno kepada detikcom di lokasi Senin (6/8).

Kala itu semburan gas muncul saat salah satu warganya membuat sumur baru untuk pengairan sawah. "Kami tahu itu semburan gas karena saat disulut, gas langsung terbakar. Dan api membubung setinggi 8 meter. Tapi sekarang sudah ditutup oleh dinas terkait, tidak difungsikan," kata Wagi.
(ams/van)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed