Kapolri Didesak Usut Rekening 2 Pati yang Diduga Calo Jabatan
Rabu, 03 Agu 2005 17:36 WIB
Jakarta -
Kapolri Jenderal Pol Sutanto kembali menerima tantangan berat. Belum selesai kasus 15 rekening polisi yang tidak wajar, kini 2 perwira tinggi (pati) dan 4 perwira menengah (pamen) diduga tersangkut masalah yang sama. Sebab, 6 orang ini diduga terlibat dalam sindikat jual beli jabatan di jajaran kepolisian.Dua pati itu adalah Irjen W dan Brigjen BG. Sedangkan 4 pamen itu yakni Kombes Pol JS, Kombes Pol BW, Kombes Pol Gf, dan Kombes S. "Mereka yang berperan aktif mengatur posisi jabatan basah dan kering di lingkungan Polri," kata Direktur eksekutif Aliansi Masyarakat Independen Pemantau Kinerja Aparatur Negara (Amipka), David Ridwan Betz, dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Surabaya I nomor 40, Duren Sawit, Jakarta Timur, Rabu (3/8/2005).Menurutnya, geng yang dipimpin W ini dikenal dengan kelompok polisi merah. "Mereka sudah beroperasi sejak Presiden Megawati," jelas David.Empat pamen tersebut merupakan lulusan Akademi Kepolisian angkatan 1983. "Para pamen ini mengatur jabatan Kapolda, Kapolwiltabes, Kapoltabes dan Kapolres," tuturnya.Modus yang dipakai, rinci David, dengan menempatkan BG sebagai staf pribadi Presiden Megawati. "sehingga dia bisa mempengaruhi Megawati dalam menempatkan orang tertentu di kepolisian," kata dia.W sendiri diduga memiliki kaki tangan yakni Franky dan Untung yang merupakan pengusaha judi di kawasan Jatinegara, Jaktim. Dua perantara inilah yang kemudian mengatur harga sebuah jabatan. Untuk jabatan Kapolda tipe A diberi harga Rp 50-100 milar, tipe B Rp 20-50 miliar. "Kalau Kapolda tipe C tidak mahal. Harga damai," ujar David. Lokasi transaksi yang kerap digunakan adalah hotel Ciputra yang terletak di daerah Grogol, Jakarta Barat.David mengaku sudah menyelidiki kelompok ini selama 4 tahun. Setelah adanya pergantian jabatan Kapolri, kelompok ini sedang merancang cara baru. Sebab, BG dimutasi masuk ke lingkungan Mabes Polri. Mereka kemudian mencoba memasukkan Kombes S ke lingkungan Wapres. "Kebetulan dia orang Makassar. Jadi lebih mudah," ucap David.Untuk itu, Amipka mendesak Kapolri Jenderal Sutanto memeriksa rekening kelompok ini. Ia menduga rekening W bisa mencapai Rp 700 miliar. "Sebelum uang itu dialihkan ke rekening orang lain atau diinvestasikan," harap David. Pihaknya meminta Kombes S ditarik dari jabatannya di lingkungan Wapres. "Karena kami menduga Kombes S akan dijadikan satelit untuk mengatur jabatan penting di kepolisian," tegasnya. Amipka mendesak pangkat Brigjen BG diturunkan. Sebab, masih banyak senior BG yang belum memiliki pangkat Brigjen. BG sendiri tercatat lulus dari Akpol angkatan 1983. "Apa prestasi yang dia miliki," tanya David.Dirinya menduga kelompok ini sedang mengincar beberapa jabatan di jajaran Mabes Polri seperti Wakapolri, Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim), Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan, Inspektorat Jenderal Pengawas Umum (Irwasum) dan Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional. "Saya yakin Kapolri Jenderal Sutanto mampu memberantas mereka," demikian David.
(ton/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































