Kronologi Pengeroyokan di Rumah Warga yang Diduga NII
Selasa, 02 Agu 2005 18:58 WIB
Jakarta - Pengeroyokan yang terjadi di rumah warga yang diduga pengikut Negara Islam Indonesia (NII) beraliran Al Zaytun menggemparkan warga setempat. Mereka juga bingung dengan keberadaan seorang pria misterius bernama Taufik yang mengawali insiden ini.Pengeroyokan terjadi di rumah nomor 10 yang terletak di Jalan Haji Samali Ujung RT 11 RW 04, Pejaten Barat, Jakarta Selatan, pada Senin 1 Agustus 2005. Seorang pria bernama Helmi menjadi korban.Ketua RT 11 Zakaria yang ditemui detikcom di rumahnya, Selasa (2/8/2005), mengisahkan ihwal kejadiannya. Berikut penuturannya:Hari Minggu, 31 Juli 2005, pukul 12.00 WIB, ada seseorang bernama Taufik bersama 3 rekannya mencari saya untuk menanyakan rumah nomor 10. Tetapi karena waktu itu saya pergi ke undangan, oleh pembantu saya ditunjukkan tempatnya.Sekitar pukul 13.00 WIB, Taufik dan temannya menggerebek rumah nomor 10 itu. Ada sekitar 15 orang di dalam rumah itu, 9 perempuan dan 6 laki-laki.Mereka dipisahkan menjadi dua kelompok, perempuan dan laki-laki. Lalu mereka diinterogasi satu per satu. Tapi mereka diam saja, tak ada yang mau mengucapkan sepatah kata pun. HP mereka lalu diambil dan dicatat nama-nama yang ada di HP. Interogasinya hingga malam hari.Tapi sorenya, Taufik sempat ke rumah saya untuk pinjam telepon ke Polsek Pasar Minggu. Tapi sampai malam hari, nggak ada petugas ke rumah itu.Hari Senin, 1 Agustus 2005, sekitar pukul 08.00 WIB, kelompok yang perempuan dipulangkan. Tapi ada juga yang sudah kabur sebelumnya. Jadi tinggal 6 laki-laki yang dijaga dua orang. Dua orang ini dulu mantan anggota NII yang sudah insaf. (Belakangan diketahui, salah satunya adalah Helmi, korban pengeroyokan).Tak berapa lama, ada beberapa orangtua yang mencari anaknya ke rumah itu. Katanya anak mereka sudah beberapa bulan tidak pulang dan tidak ketahuan kabarnya, sehingga diduga menjadi anggota NII. Saat para orangtua yang ditemani Taufik mengecek, ternyata 6 laki-laki itu bukan anak mereka.Taufik lalu ke rumah saya, ditemui oleh istri saya. Taufik bilang mau bikin berita acara dengan sepengetahuan saya sebagai ketua RT. Tapi yang teken istri saya.Pada saat bersamaan, ada sekitar 50 orang datang naik motor dan 1 mobil Kijang. Mereka rupanya teman-teman 6 pria yang masih ada di rumah itu.Mereka menjemput 6 temannya sambil membawa dokumen, berkas, dan komputer. Dua penjaga sempat menghadang, namun dipukuli. Taufik juga tak bisa mencegah karena kalah banyak.Pukul 12.00 WIB, petugas Polsek Pasar Minggu datang. Tapi sudah nggak ada siapa-siapa. Rumah sudah kosong. Hanya ada satu orang yang ditonjok (Helmi). Dia pun dibawa ke Polsek.Petugas Polsek tanya ke saya, siapa si Taufik itu, apa dia intel atau petugas polisi. Saya tidak tahu. Sebab ternyata nama Taufik tidak ada di Polsek Pasar Minggu. Tidak ada yang kenal.Saya sih yakin Taufik polisi, karena waktu hari Minggu itu, Taufik memanggil temannya "kopral".Istri saya bilang, Taufik ngakunya dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Taufik juga bawa kamera video. Ditanya dari TV mana, dijawab dari MUI untuk bikin dokumentasi.Dengan kejadian seperti ini, warga jadi lebih waspada. Saya sudah mengadakan pertemuan dengan warga. Kalau ada warga yang tidak mau lapor ke RT, saya akan bikin surat untuk ditembuskan ke Polsek Pasar Minggu dan Kelurahan Pejaten Barat. Biar petugas yang menanyakan identitas mereka agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi.Rumah itu milik Ibu Anne yang sedang pergi ke Australia, dan dikontrakkan ke Bambang Hermawan yang sudah 1,5 tahun ngontrak di situ.Bambang sih lapor ke RT dan orangnya baik, usianya sekitar 30 tahun. Jadi saya tidak pernah pikir macam-macam. Dia pergi ke Jawa 3 bulan.Rumah itu dititipkan ke temannya yang dipanggil Abi. Abi itu masih muda, baru berusia sekitar 25 tahun, tapi dia dituakan oleh sejumlah orang yang menempati rumah itu.
(sss/)











































