Dimarahi karena Tidak Naik Kelas, Murid SD Gantung Diri
Selasa, 02 Agu 2005 17:31 WIB
Yogyakarta - Gara-gara sering dimarahi orang tuanya karena tidak naik kelas, Novia Anggi Fathona Bhakti (9), warga Dusun Surobayan, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul nekat gantung diri. Meski berhasil diselamatkan, saat ini Novia masih belum sadarkan diri dan masih dirawat intensif di RSU Dr Sardjito Yogyakarta.Sejak diselamatkan atas percobaan menggantung diri pada tanggal 5 Juli 2005 lalu, hingga hari ini Selasa (2/8/2005) Novia masih dirawat di ruang Pediatrix Intensive Care Unit (PICU) anak di RSU Dr Sardjito. Hingga saat ini, sebenarnya belum diketahui secara pasti penyebab percobaan bunuh diri itu siswa SDN Pedes IV Argomulyo itu. Namun, diduga kuat Anggi nekat bunuh diri dengan cara menggantung karena mengalami tekanan batin, akibat dimarahi kedua orangtuanya karena tidak naik kelas IV.Menurut Harjo Prawiro, kakek korban, pada tanggal 5 Juli 2005 sore, Anggi disuruh ibunya, Ny Juwariyah, menyapu halaman rumah. Namun Anggi menjanjikan akan menyapu setelah acara televisi yang ditontonnya usai. Karena belum dikerjakan, Ny Juwariyah marah-marah. Karena dimarahi ibunya, Anggi kemudian masuk ke kamar dan mengunci pintu.Karena Anggi lama tak keluar kamar, Juwariyah kemudian mengetuk pintu. Saat itu, Anggi tak menyahut teriakan dan ketukan pintu orangtuanya. Ketika pintu kamar didobrak, ternyata Anggi sudah menggantung dengan seutas tali di salah satu tiang di kamarnya.Saat itu juga, kata Harjo, ibunya langsung berteriak minta tolong dan menurunkan Anggi. Karena tidak sadarkan diri, Anggi langsung dibawa ke Puskesmas Sedayu. Karena lukanya serius, perawat di Puskesmas merujuk agar korban dibawa ke RSUP Sardjito.Menurut Harjo, Anggi adalah anak pertama dari dua bersaudara pasangan Sumirat dan Juwariyah. Ayahnya bekerja sebagai tukang sablon. Sedangkan ibunya menjadi buruh tani biasa. Selain dimarahi oleh orangtuanya, sebelumnya korban kecewa karena sepeda miliknya dijual oleh orang tuanya dengan alasan sepeda itu tidak pernah dipakai Anggi. "Setelah sepedanya dijual, Anggi menjadi jarang bermain dengan temannya dan sering terlihat murung di rumah. Ibunya juga sempat marah ketika tahu Anggi tidak naik kelas," kata HarjoSementara itu menurut Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Desa Argomulyo Wagiyanto yang juga tetangga korban, kemungkinan percobaan bunuh diri itu juga dilatarbelakangi rasa malu. Sebab Anggi yang sekolah di SDN Pedes II Argomulyo kelas III tidak naik kelas. "Sejak tidak naik kelas, Anggi lebih banyak di rumah dan tidak sering bermain seperti biasanya," kata Wagiyanto.Menurut Wagiyanto, saat ini kedua orangtua korban, Sumirat dan Siti Juariah, yang berasal dari keluarga tidak mampu itu kebingungan mencarikan biaya perawatan anak sulungnya itu. "Mereka juga sudah melampirkan surat keterangan tidak mampu dari kelurahan dan kecamatan, agar memperoleh keringanan biaya untuk menebus obat rumah sakit," katanya.
(asy/)











































