Kena Macet di Jatinegara, Ditabrak Jenderal eh Diancam Pistol
Selasa, 02 Agu 2005 17:20 WIB
Jakarta -
Sudah kena macet, ketabrak mobil jenderal, eh malah diancam pistol. Itulah nasib apes Tika dan Suryo Hapsoro, pasangan suami istri warga Depok, Jawa Barat.Cerita pasangan muda ini marak di berbagai mailing list (milis) yang beredar Selasa (2/8/2005). "Saya harap hal ini tidak terulang lagi pada orang-orang lain," kata Tika pada detikcom lewat telepon, pukul 16.00 WIB.Peristiwa yang menimpa Tika terjadi pada hari Sabtu, 30 Juli 2005 sekitar pukul 12.00 WIB, tepatnya di depan RS Hermina, Jatinegara, Jakarta Timur. Saat itu Tika, suami dan anaknya yang berusia 4 tahun melintas di jalan itu dengan mengendarai Kijang Innova. Karena kondisi macet, mobil Tika pun terpaksa berhenti.Tapi tiba-tiba dari sampingnya meluncur mundur mobil Nissan X-Trail bernopol polisi 7583-03 berbintang satu, alias mobil dinas seorang brigjen. Brukk! Mobil itu menabrak tepat di bagian tengah mobil Tika.Karena penabrak tidak kunjung menampakkan diri untuk bertanggung jawab, Tika pun turun dari mobil. "Kami meminta pertanggungjawaban dari si penabrak, tetapi kami mendapatkan sikap yang acuh dan bahkan permintaan maaf pun tidak disampaikan," kata Tika.Setelah terjadi debat panjang dan tidak ada penyelesaian, suami Tika pun mengambil kunci stir dengan maksud membuat penyok juga mobil si penabrak sehingga keadaan menjadi seri."Tapi tidak dikira si penabrak ternyata mengambil pistol dari mobil dan mengacungkannya sembari mengancam nyawa akan menembak kepala," cerita Tika.Tika dan suaminya juga mengajak penabrak itu menyelesaikan masalah ini ke kantor polisi, tetapi tidak mendapatkan tanggapan. Penabrak juga tak bersedia menurunkan kacak pinggangnya. Akhirnya Tika membiarkan kasus itu berlalu begitu saja.Lalu siapa penabrak yang memamerkan pistolnya itu? Setelah cari-cari informasi, Tika mengetahui penabrak itu seorang dokter spesialis kandungan berpangkat brigjen berinisial S."Saya mengungkapkan kejadian ini bukan tanpa kekhawatiran, karena tidak tertutup kemungkinan saya akan mendapat teror atau segala intimidasi nantinya kalau di tempat kejadian pun si penabrak bisa dengan arogannya menunjukkan kekuasaan dengan pistol yang seharusnya tidak diperlukan untuk menyelesaikan masalah yang sepele ini," aku Tika.Di mata Tika, seorang brigjen polisi apalagi dokter seharusnya justru memberi perlindungan pada rakyat, dan bukannya mengancam rakyat yang jadi korban karena kecerobohannya mengendarai mobil.Tika memiliskan ceritanya agar kejadian ini tak terulang lagi di masa depan. "Saya banyak mendapat dukungan teman-teman apalagi kemarin ada juga kenalan saya yang ditodong bintang tiga," ungkap Tika mengunci pembicaraan.
(nrl/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































