Jangan Ada Lagi Korban Seperti Ayu di Aceh
Selasa, 02 Agu 2005 15:37 WIB
Banda Aceh - Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) akan segera menandatangani MOU perdamaian 15 Agustus mendatang. Banyak yang menggantungkan harapan agar kedamaian segera terwujud di Aceh, dan berharap tak ada lagi korban yang jatuh setelah itu, dari pihak mana pun. Setelah kejadian 4 tahun lalu, Ayu Agustina (19), hingga kini masih harus duduk di atas kursi rodanya. Sudah 4 kali anak sulung dari 6 bersaudara ini menjalani operasi, tapi hasilnya nihil. Sebuah peluru AK 47 yang menghantam tulang belakangnya dan serpihan peluru yang berasal dari GLM (senjata api sejenis pelontar roket) yang sampai saat ini masih berada di paru-parunya, membuatnya sama sekali tak berdaya. Ayu, demikian dia sering disapa, adalah satu dari sekian banyak korban akibat konflik berkepanjangan yang terjadi di Aceh selama hampir 30 tahun terakhir ini."Mudah-mudahan, setelah nanti ada perjanjian damai antara Indonesia dengan GAM, tak ada lagi korban yang jatuh. Ayu sudah merasakan betapa kejam dan pedihnya konflik ini," kata Ayu pada detikcom, Selasa (2/8/2005). Padahal, Ayu bukanlah anggota atau simpatisan GAM atau juga seorang anggota TNI. Ayu hanya seorang penduduk sipil, yang tak pernah membayangkan sebagian hidupnya harus terengut akibat pertikaian antara pemerintah Indonesia dan GAM.Masih terang dalam ingatan Ayu, suatu sore di bulan Ramadhan tahun 2001 lalu, dia berangkat dari rumahnya untuk mengikuti acara buka bersama di rumah seorang temannya yang kebetulan bersebelahan dengan pos TNI di kawasan Jl.Teuku Cik Di Tiro, Banda Aceh. Oleh si empunya hajatan, Ayu dimintai tolong memanggil aparat TNI yang berada di pos tersebut untuk ikut berbuka bersama. Tak disangka, ketika hendak memasuki halaman pos tersebut, pos itu diserang. Selain Ayu, ada beberapa aparat TNI yang terluka cukup serius waktu itu."Sedih sekali waktu itu, apalagi bapak Ayu sudah tidak ada. Meninggal setahun sebelum kejadian itu. Kami dalam keadaan nggak punya uang. Mana waktu itu Ayu perlu banyak darah," tutur ibunya, Isiyah. Operasi terhadap anak sulungnya juga baru dilakukan setelah dua minggu kejadian penyerangan itu. Setelah itu, Ayu harus menjalani operasi sampai 4 kali. Syukurnya, menurut Isiyah, kantor bekas tempat suaminya bekerja memberikan bantuan atas kejadian tersebut. Dan sampai kini, mereka masih menerima tunjangan dari kantor suaminya sebesar Rp 300 ribu per bulan. "Itulah yang kami cukup-cukupkan. Kalau untuk berobat Ayu, saya sudah tak tahu harus mencari ke mana lagi. Sudah capek mencari ke sana kemari, tapi yang saya dapatkan kadang hanya capeknya saja," katanya. Atas bantuan salah satu yayasan, pasca tsunami ini, Ayu mendapatkan sebuah kursi roda. "Alhamdulillah, akhirnya Ayu bisa ganti kursi roda. Yang lama sudah karatan dan sudah dilem di sana sini. Soalnya hanya ketika tidur saja, Ayu tidak di kursi roda, jadi tahu sendirilah bagaimana kondisi kursi roda Ayu," ungkap Ayu.Berkat bantuan seseorang yang bersimpati atas nasibnya pula, Ayu dapat melanjutkan sekolahnya yang sempat terhenti hampir tiga tahun ini. "Sekarang Ayu lagi sibuk belajar untuk mengikuti Ujian Nasional ulangan tanggal 22 Agustus ini. Kemarin Ayu tidak lulus," ujarnya malu-malu.Meski dalam pekan ini masih terdengar juga salak senjata dan jatuhnya korban, mudah-mudahan setelah 15 Agustus mendatang, pihak-pihak yang bertikai dapat menahan diri dan mewujudkan kedamaian yang diidamkan semua orang yang ada di bumi serambi mekah ini."Ayu berdoa, agar tak ada lagi orang yang merasakan apa yang Ayu rasakan setelah 15 Agustus nanti. Semoga ada kedamaian, semoga orang bisa hidup tenang. Semoga juga ada perhatian dari pemerintah untuk orang-orang seperti Ayu," harap gadis ini.
(asy/)











































