2 Senator AS akan Kunjungi RI

Soal Embargo Senjata

2 Senator AS akan Kunjungi RI

- detikNews
Selasa, 02 Agu 2005 14:36 WIB
Jakarta - Amerika Serikat mulai memperbaiki hubungan sektor pertahanan dengan Indonesia. Akhir bulan ini, 2 senator AS termasuk Patrick Leahy akan datang ke Indonesia. Leahy adalah senator dari Partai Demokrat yang gencar mendukung pelaksanaan embargo senjata ke Indonesia. "Sebab embargo itu tergantung Kongres karena dari pemerintah AS sudah tidak ada masalah lagi," kata Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono usai pembukaan acara Indonesia-United States Security Dialogue III di Hotel Borobudur, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Selasa (2/8/2005)."Kita sangat memahami situasi politik Kongres AS yang menangani masalah anggaran dan bantuan. Jadi kita harus sabar," tegasnya. Kongres AS dijadwalkan akan menggelar rapat termasuk akan membahas masalah embargo pada Oktober 2005 mendatang. AS mengembargo TNI karena TNI dianggap melakukan pelanggaran HAM di Timtim. Ada tiga komponen yang diembargo AS yaitu pendidikan militer, dalam persenjataan yang tidak membunuh dan persenjataan yang membunuh. Embargo yang hingga kini masih diterapkan hanya pada persenjataan yang membunuh. Sedangkan salam kerja sama pendidikan militer dan persenjataan yang tidak membunuh telah dibuka.Juwono juga mengakui tetap mencari altenatif dalam mengembangkan sektor pertahanan. Negara tujuan yang akan diajak kerja sama antara lain Rusia dan Cina.Saat ini, lanjut eks Dubes Indonesia untuk Inggris ini, RI sedang menjajaki kerja sama dalam pengembangan roket atau rudal dengan jarak 150 kilometer dengan Cina. Kerja bareng ini dilakukan oleh kementerian ristek RI dengan Cina. "Tetapi, secara umum nantinya kerja sama ini nantinya ada kaitan dengan pertahanan," jelas Guru Besar UI ini.Menhan menjelaskan dipilihnya kerja sama dengan Cina dalam pembuatan roket atau rudal karena ongkos yang lebih murah dibanding pengadaan alutsista (alat utama sistem pertahanan) lainnya. "Mendatangkan pesawat tempur dari negara asing yang sering lebih mahal dan kena embargo," tambah dia. (ton/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads