Tak Ada Kampus Yang Bersih

Sex Delivery Order Mahasiswi (2)

Tak Ada Kampus Yang Bersih

- detikNews
Selasa, 02 Agu 2005 09:17 WIB
Jakarta - Maraknya mahasiswa yang menjadi pekerja seks komersil (PSK) di Jakarta sebenarnya bukan satu hal yang mencengangkan. Bahkan, boleh di bilang tidak ada kampus yang bersih dari mahasiswa yang menjalani "kegiatan" luar kampus ini. Hampir semua kampus di Jakarta memiliki tipe mahasiswa seperti ini.Pandangan itu dilontarkan oleh psikolog Sartono Mukadis. "Boleh saya katakan, praktek seperti ini tidak hanya terjadi di kampus yang notabene sudah mendapat stigma gudangnya "ayam kampus". Di kampus yang baik pun masih ada mahasiswi yang seperti itu. Boleh dibilang tidak ada kampus yang bersih," kata Sartono.Praktek prostitusi di kalangan mahasiswa sebenarnya sudah ada sejak dulu. Bahkan, salah satu kampus di Jakarta sudah cukup mendapat stigma seperti ini sejak lama. "Anda pasti pernah mendengar istilah 'kampus unggu'," tutur Sartono. Dan itu memang benar pada kenyataannya.Tapi ketika pada masa dulu, masih sedikit mahasiswi yang terjun ke dunia hitam. Dan boleh dibilang mereka menjadi PSK karena semata-mata terbentur pada kebutuhan untuk membiayai kuliah dan kebutuhan hidupnya.Bahkan Sartono mengaku sempat mempunyai anak didik yang berprofesi ganda itu. "Ada sekitar dua atau tiga mahasiswa saya yang mengaku terang-terangan, ketika saya masih aktif mengajar," ujar Sartono.Tapi bagi dirinya hal itu tidak menjadi masalah. Saat ini, beberapa anak didiknya yang sempat menjadi PSK itu ternyata sudah berkeluarga dan hidup normal. Mereka tidak lagi terjun ke dunia hitam hingga terlalu jauh. Karena memang saat itu mereka melakukannya karena terdorong oleh kebutuhanmembiayai ongkos kuliah.Tidak seperti sekarang ini, kata Sartono, para mahasiswi yang menjadi PSK bukan lagi karena kebutuhan tapi untuk karena untuk menutupi gaya hidup. Awalnya, memang para mahasiswi itu mau melakukannya hanya untuk sampingan atau sekedar iseng. Tapi jangan salah, banyak dari mereka yang berbuat itu karena sudah menjadi kebutuhan dan bukan lagi sekedar iseng.Makin majunya sebuah perkembangan jaman, tentunya akan makin meningkatkan tingkat kebutuhan manusia. Hal ini sangat alamiah, ketika ada kebutuhan yang meningkat maka orang akan berupaya menutupi kebutuhan hidupnya dengan berbagai cara, termasuk melacurkan diri.Namun tidak dapat dipungkiri ada beberapa faktor yang menyebabkan itu terjadi. Secara demografi, saat ini banyak berdirinya tempat kuliah dan mudahnya masuk perguruan tinggi membuat hal itu terjadi. Status mahasiswa saat ini tidak lagi ekslusif seperti dulu. Siapa saja bisa menjadi mahasiswa, asal punya uang dan punya keinginan.Bukan tidak mungkin para PSK justru sengaja menjadi mahasiswa hanya untuk menaikkan value atau nilai dari seorang PSK. Soalnya, akan ada price tersendiri jika PSK itu berstatus mahasiswa. "Artinya, dengan jadi mahasiswa nilai ekonomis seorang PSK bisa naik," kata Sartono kepadadetikcom di Jakarta, Selasa (2/8/2005).Hal ini juga tidak terlepas dari adanya demand dan supply terhadap para PSK tersebut. Hubungan keduanya akan sangat menentukan marak atau tidaknya PSK di kalangan mahasiswa.Sartono mengaku tidak punya saran, nasehat ataupun pendapat untuk membatasi praktek prostitusi ini. Soalnya, pada tingkat mahasiswa mereka sudah diberikan keleluasaan untuk memilih mana yang baik dan yang buruk. Jika memang sebagian mahasiswi memilih jalan gelap itu, tentunya harus diakui sebagai sebuah pilihan sadar bagi mereka.Pemerintah juga tidak akan dapat berbuat banyak untuk mengatasi masalah ini. Tak terkecuali memberikan beasiswa kepada para mahasiswi yang kurang mampu atau setengah mampu. "Katakan lah beasiswa itu Rp 500 ribu per bulan. Mereka sekali 'main' mungkin bisa mendapatkan lebih dari itu, jadiagak sulit memang," kata psikolog UI ini.Namun yang jelas, dominasi faktor keluarga harus lah dikedepankan. Tak cuma perhatian dan tapi juga kasih sayang terhadap mereka. Karena memang sebagian mahasiswi, banyak yang terjun ke dunia ini karena kurang perhatian dari orangtuanya.Contohnya saja, Bunga (bukan nama sebenarnya) yang terjun ke dunia hitam ini karena memang jauh dari orangtuanya. Orangtuanya yang berada di wilayah tengah Indonesia itu, sama sekali tidak tahu apa yang dikerjakan anaknya."Jauh dari orangtua bikin gue lepas kontrol. Malu dan takut juga sih, kalau sampai ortutahu, gue kerja kayak gini," sesal Bunga. Tapi dia tidak tahu sampai kapan akan mencari uang sampingan dari menjajakan tubuhnya kepada semua lelaki. "Hidup ini mengalir saja lah, kayak air," tutur Bunga.Nah, selagi masih bisa, jadilah orang baik. (ism/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads