Wawancara Khusus TGB (2)

TGB Buka-bukaan Alasan Mundur dari Demokrat

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Senin, 30 Jul 2018 16:24 WIB
Muhammad Zainul Majdi, atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB). Gubernur Nusa Tenggara Barat. (Foto: Muhammad Ridho/detikcom)
Jakarta - Beberapa elit Partai Demokrat sempat mengungkapkan kemungkinan pemberian sanksi terhadap TGB (Tuan Guru Bajang) Zainul Majdi karena menyokong Jokowi untuk kembali menjadi presiden. Setelah beberapa lama, sanksi tersebut tak kunjung tiba. Di sisi lain, harapannya untuk bertemu Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun tak mendapatkan respons. Akhirnya dia memutuskan untuk mundur dari posisi Majelis Tinggi Demokrat.



Untuk menggali lebih jauh alasan di balik pengunduran dirinya itu maupun hubungannya dengan Demokrat dan SBY, Kanavino Ahmad Rizqo dari detikcom mewawancarai TGB di sela-sela Konferensi Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) di NTB, pada Sabtu (28/7/2018) malam kemarin. Berikut ini petikannya.

Setelah menyatakan mendukung Jokowi dua periode, Anda mundur dari posisi Majelis Tinggi Demokrat. Kenapa?
Secara sangat detailnya, saya hanya bisa sampaikan itu alasan saya pribadi, saya pribadi ngobrol sama orang tua minta pandangan dari umi dan guru guru saya. Berdikusi dengan para sahabat-sahabat dan sudah saya putuskan untuk mundur.

Anda tidak nyaman lagi karena sempat diancam akan dikenai sanksi karena mendukung Jokowi?
Itu tafsirannya (anda), silakan lah masing-masing menafsirkan tapi kalau dari saya alasan pribadi.

Ada respons terkait surat pengunduran diri Anda ke Partai Demokrat?
Pengunduran diri itu kan tidak perlu direspons dengan surat resmi tapi diterima dengan baik dan dipahami.



Sudah ada Komunikasi dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono?
Belum ada.

Kalau elite Demokrat yang lain ada yang menghubungi?
Menghubungi dalam konteks surat sudah sampai, telah diterima dengan baik.

Ada yang bilang bahwa Anda tidak cocok dengan Demokrat karena seolah-olah ingin membangun dinasti?
Nggak ada. Tidak sejauh itu. Alasan sangat pribadi

Sudah ada komunikasi dari PDIP yang menyatakan bahwa Anda akan menjadi tim sukses pemenangan Jokowi di 2019?
Belum sama sekali.

Komunikasi informal?
Belum juga.

Seandainya ada tawaran itu?
Seandainya itu dijawab pada waktunya.

Apa upaya supaya Jokowi lanjut periode kedua?
Pertama, terkait tim pemenangan, saya bukan mengatakan tidak. Karena belum ada komunikasi. Saya belum bisa jawab, ya atau tidak. Karena belum ada komunikasi. Tapi intinya apa sih yang akan saya lakukan karena pilihan saya mendukung pak Jokowi adalah berdasarkan apa yang saya yakini. Beliau adalah pemimpin yang pantas untuk melanjutkan kepemimpinan periode kedua. Ya saya akan berusaha dengan semaksimal yang saya mau. Dengan cara-cara yang baik untuk mengkomunikasikan kepada masyarakat bahwa figur pak Jokowi masih kita perlukan untuk memimpin Indonesia pada periode kedua.

Anda kan bersahabat baik dengan Ustaz Somad, Aa Gym. Ada rencana mengajak mereka?
Belum ada pembicaraan apapun. Tapi komunikasi dalam konteks bahwa saya memilih untuk mendukung pak Jokowi. Tapi mengajak beliau-beliau itu belum ada sama sekali.

Upaya mengajak yang lain juga?
Belum juga.

Alumni Al-Azhar akan diajak juga?
Nggak, ini pribadi. Alumni Al-Azhar itu organisasi yang menghimpun para alumni dan dia apolitis, dia tidak berpihak secara institusional kepada kekuatan politik manapun.

Kalau dengan Persaudaraan Alumni (PA) 212, ada komunikasi dengan mereka?
Secara resmi dengan persaudaraan ya tidak ada tapi ya dengan beberapa orang yang sudah kenal lama, ada komunikasi dan silaturahmi, ada yang bertabayyun kepada saya. Saya jelaskan apa adanya.

Ada beberapa juga dari PA 212 yang mengkritik. Tanggapan Anda?
Ada beberapa yang bertanya dan bertabayyun, mengkritik, ya saya respons sesuai dengan apa yang saya terima. Kalau itu kritikan ya berterima kasih atas kritikan, karena kita saling mencintai, kalau untuk tabayyun, bertanya apa sebabnya, saya jelaskan. Jadi menurut saya kita tetap memjaga silaturahim.

Soal Kapitra Ampera yang berbelok arah, PA 212 mengkritik fenomena yang awalnya dekat kemudian mendukung Jokowi?
Kalau kritik itu berbasis obyektifitas ya boleh boleh saja. Tentu dengan diksi dan pilihan kata yang baik, kan kira manusia, semua punya martabat. Jadi kalau hal-hal yang sifatnya mengumpat, memfitnah, saya pikir kita harus jauhkan dari ruang publik.

Setelah dari Demokrat akan ke mana?
Belum ada



[Gambas:Video 20detik]






(erd/jat)