Polisi Ringkus Tersangka Pembunuh & Pelaku Sodomi Anak
Senin, 01 Agu 2005 22:59 WIB
Pekanbaru - Poltabes Pekanbaru menangkap satu tersangka terkait kasus pembunuhan terhadap Dipo Setyawan (10). Dipo, siswa murid kelas V SD 050 Simpang Tiga Pekanbaru itu, diduga menjadi korban kedelapan kasus pembunuhan berantai sekaligus pelecehan seksual (sodomi) anak di Pekanbaru."Kita telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap tersangka Y. Namun, kita belum memiliki bukti penghubung dengan kasus pembunuhan anak-anak lainnya," kata Kapoltabes Pekanbaru, Kombes Pol Elan Subilan kepada detikcom, di Polsek Bukit Raya, Jl Unggas Pekanbaru, Seni (01/08/2005) Tersangka bernitial Y (30) adalah seorang warga yang tidak jauh dari rumah korban pembunuhan, yakni di Jl Kartama, Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru. Kini, tersangka di jebloskan di ruang tahanan Polsek Bukit Raya, Pekanbaru.Elan menjelaskan, bukti-bukti kuat yang dimaksud antara lain, ditemukannya tas Dipo Setyawan anak seorang PNS Kantor Gubernur Riau, 12 meter dari rumah kontrakan tersangka. Bukti yang mengarah lainnya, juga ditemukan pihak kepolisian dari dalam kamar tersangka."Namun bukti-bukti yang kita maksud itu, bukan untuk konsumsi pers. Ini akan kita buktikan dalam pengadilan nanti. Jadi kiranya wartawan bisa memahami hal itu," pinta Elan.Terkait kasus pembunuhan Dipo ini, lanjut Elan, pihaknya sudah memeriksa saksi yang menguatkan bukti adanya alibi saat Dipo hilang sekitar pukul 11.00 s/d 12.00 WIB (Jumat) tersangka tidak berada di lokasi kerjanya."Akan tetapi dari hasil pemeriksaan kita, tersangka memang tidak mengakuiperbuatannya itu. Untuk tidak mengakui perbuatan pembunuhan itu, merupakan hak tersangka. Tapi dari bukti-bukti yang ada, kita menetapkan Y sebagai tersangka kasus pembunuhan itu," kata Elan.Elan memaparkan, tersangka Y yang juga pria lajang ini baru saja dua pekan pindah dari rumah kontrakannya yang lama ke dekat rumah korban. Tersangka yang berstatus karyawan sebuah perusahaan garment ini, mengaku tidak mengenal korban. "Tetapi diperkirakan mengetahui gerak-geriknya karena tempat tinggalnya berdekatan dengan jalan yang biasa dilewati korban pulang dan pergi sekolah," beber Elan.
(ism/)











































