Pria Indonesia Malas Pakai Kondom
Senin, 01 Agu 2005 15:37 WIB
Denpasar - Upaya pemerintah untuk menekan jumlah penduduk melalui program Keluarga Berencana (KB) terhalang oleh kesadaran pria usia subur Indonesia yang malas memakai kondom."Pria Indonesia sangat rendah ber-KB padahal ada kondom dan vasektomi. Jika istri tidak cocok ber-KB karena darah tinggi atau penyakit rahim maka suami yang harus memakai kondom," kata Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Indonesia (BKKBN) Dr Sumarjati Arjoso di sela-sela acara Strengthening Regional Partnership for Safe Motherhood di Hotel Sanur Paradise, Sanur, Bali, Senin (1/8/2005).Dari hasil survei dari jumlah pasangan usia subur masyarakat Indonesia yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 60,3 persen dari 58 juta pasangan usia subur. Sedangkan pria usia subur Indonesia yang memaki memakai kondom saat ini masih rendah hanya 3,6 persen dari 60,3 persen.Arjoso mengatakan, angka tersebut jauh di bawah standar yang ditetapkan BKKBN yaitu sebanyak delapan persen pria usia subur yang harus menggunakan kondom. "Padahal standar sudah turunkan menjadi 4 persen tapi belum nyampek," katanya.Arjoso mengatakan, masyarakat yang miskin, kurang berpendidikan, terpencil dan bermukim di lingkungan kumuh masih sangat rendah kesadaran ber-KB-nya dibandingkan dengan penduduk yang berpenghasilan tinggi.BKKBN berupaya melakukan akselerasi pelayananan ber-KB kepada penduduk yang tidak mampu dengan menyediakan alat kontrasepsi dan pelayanan gratis kepada penduduk miskin. BKKBN bekerjasama dengan pihak kesehatan, TNI, Ikatan Bidan Indoensia, Ikatan Dokter Indonesia, Polri dan LSM."Siapa pun yang melayani miskin kita berikan bantuan. Tugas pemerintah adalah melayani yang miskin. Yang mampu dan kaya harus membantu," katanya.Sementara itu, angka kematian ibu hamil atau melahirkan pada tahun 2005 mencapai 305 orang per 100 ribu ibu hamil atau melahirkan. Angka jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Singapura, Bruinei Darussalam, Malaysia yang mencapai 20 hingga 50 orang."Angka kematian penduduk Indonesia jauh lebih banyak karena penduduknya lebih miskin dan tersebar di daerah-daerah terpencil. Jadi pasti angka kematian menjadi lebih tinggi," paparnya.
(nrl/)











































