Awas, Penipu SMS Kini Lirik Pemasang Iklan di Media Massa
Senin, 01 Agu 2005 11:05 WIB
Jakarta -
Anda memasang iklan menjual rumah di iklan baris media massa -- cetak atau internet? Waspadalah, sebab para bandit penipuan lewat SMS kini 'memperbaiki' modusnya dengan mengincar para pemasang iklan itu.Modus gres ini nyaris menimpa keluarga Rustandi, seorang karyawan sebuah BUMN yang tinggal di Bandung, Jawa Barat. Peristiwa ini terjadi pukul 11.00 WIB, Sabtu (30/7/2005).Cerita ini bermula ketika kakak Rustandi memasang iklan baris menjual rumah di harian Pikiran Rakyat, koran lokal terkemuka setempat. Pada Sabtu, 30 Juli 2005, iklan itu dimuat.Rupanya iklan itu menarik hati seseorang yang bernama Nugroho. Nugroho segera mengontak handphone kakak Rustandi yang tertulis dalam iklan itu. Uniknya, Nugroho langsung ingin membeli rumah itu dan transaksi dilakukan cukup lewat telepon!Nugroho yang tinggal di Jakarta bermaksud menstransfer uang Rp 50 juta sebagai uang muka dari harga yang telah disepakati. Rumah itu diakuinya diperuntukkan untuk adiknya yang tinggal di Bandung. Dan sang adik pernah melihat rumah yang diiklankan itu.Tapi kakak Rustandi kebetulan rekeningnya expired sehingga Nugroho tak bisa menstransfer dananya. Sang kakak lalu mengontak Rustandi untuk meminjam rekeningnya."Tapi saya agak curiga karena kakak saya diminta ke ATM dan menghubungi si penelepon ke handphonenya ketika berada di ATM. Padahal yang mau transfer itu dia (Nugroho), bukan kakak saya," cerita Rustandi pada detikcom, Senin (1/8/2005). Kecurigaan Rustandi bertambah ketika dia memberikan kode yang harus dimasukkan supaya transfer bisa dilakukan. "Akhirnya dengan penuh kehati-hatian saya tidak jadi meminjamkan kartu ATM saya, tetapi kartu istri saya yang saldonya sekitar Rp 50.000," tutur Rustandi.Ternyata benar saja. Ketika di mesin ATM, Nugroho mengarahkan untuk mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening tertentu yang nilainya sama dengan kode yang telah dia berikan sebelumnya, bukan meminta konfirmasi transfer yang dia lakukan.Tetapi ketika proses belum selesai, dia menanyakan saldo rekening dan lantas menutup telepon ketika kakak Rustandi menyebutkan nilai saldo. "Kelihatannya sudah tidak prospektif lagi buat dia untuk meneruskan transaksi," kata Rustandi.Dari kejadian itulah, Rustandi berkeyakinan sindikat penipu dengan modus hadiah via SMS telah beralih dengan mencari sasaran orang orang yang memasang iklan baik di media cetak maupun internet. "Saya imbau masyarakat agar berhati-hati dan tidak mudah terkecoh," saran Rustandi mengunci pembicaraan.
(nrl/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































