Rommy-Ngabalin Disuruh Hati-hati, SBY Jangan Baper

Tsarina Maharani, Zunita Amalia Putri, Marlinda Oktavia - detikNews
Kamis, 26 Jul 2018 20:15 WIB
Foto: Susilo Bambang Yudhoyono. (Agung Pambudhy/detikcom).
Jakarta - Menyentil beberapa pihak, Ketum Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkap hubungannya yang tidak harmonis dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri sebagai rintangan untuk berkoalisi dengan Joko Widodo di Pilpres 2019. Sejumlah parpol meminta SBY untuk tidak baper (bawa perasaan).

SBY blak-blakan soal hubungannya dengan Jokowi yang kini renggang. Padahal dalam satu tahun terakhir diakui dia dengan Jokowi cukup baik. Lalu SBY membicarakan soal hubungannya dengan Megawati.

Menurut SBY, dia terus berusaha memperbaiki hubungannya dengan Megawati selama 10 tahun dia menjadi presiden. Bahkan ternyata mendiang suami Megawati, Taufiq Kiemas, juga sudah berusaha membantu agar hubungan SBY dan Megawati kembali membaik.

"Kalau hubungan saya dengan Bu Mega masih ada jarak ikhtiar untuk saya jalankan. Komunikasi saya lakukan 10 tahun. Mendiang Taufiq Kiemas juga sudah berusaha memulihkan. Jadi bukannya nggak ada kehendak, tapi Allah belum kehendaki," sebut SBY, Rabu (25/7/2018).

"Saya hormati beliau sebagai presiden sebelum saya, tidak akan pernah hilang hormat saya, tapi Tuhan belum takdirkan hubungan kami kembali normal," tambahnya.


Lalu dalam peryataan persnya, SBY menyinggung nama Ketum PPP Romahurmuziy (Rommy). Dia menegaskan, renggangnya hubungannya dengan Jokowi bukan karena syarat cawapres yang disodorkan ditolak. SBY juga membantah meminta Jokowi untuk menjadikan putra sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai cawapres.

"Kalau saya dengar statement Bung Rommy dari PPP, seolah-olah SBY nggak koalisi dengan Jokowi karena syarat cawapres tidak diwadahi. Saya harap Bung Rommy harus hati-hati, dan saya harap berhati-hati dalam mengeluarkan statement," tegas Rommy.

Tak cuma ke Rommy, Presiden RI ke-6 itu juga menyentil Tenaga Ahli Kedeputian IV Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin. Dia menegaskan, Demokrat tak perlu pamit kepada Jokowi ketika akhirnya memilih menutup pintu terhadap kesempatan koalisi mendukung Jokowi pada Pilpres 2019.

"Saya tidak harus izin kepada beliau. SBY bukan bawahan Pak Jokowi. PD bukan koalisi Jokowi. Kami saling menghormati. Kalau itu keluar dari Ngabalin, hati-hati juga berbicara," ujar SBY.


Ngabalin sudah angkat bicara soal ini. Dia mengungkap sudah pernah ada kesepakatan antara SBY dan Jokowi yang sudah beberapa kali bertemu. Sehingga menurutnya akan lebih baik bila Demokrat tak jadi merapat ke Jokowi, ada pembicaraan terlebih dahulu.

"Saya tahu bahwa Yang Mulia Bapak SBY bukan bawahannya Pak Jokowi, tapi beliau berdua pernah beberapa kali bertemu sesama pimpinan negara, baik yang terpublikasi maupun tak terpublikasi. Karena itulah sudah ada gentlement agreement-lah," tutur Ngabalin.

"Menurut saya, para negarawan, sehingga saya mengatakan kan ada gentlement agreement. Mbok kalau mau ke mana saja hak beliau, hak Partai Demokrat dan Bapak SBY. Yang saya katakan adalah ada 'kulonuwun', buang-buang suara kalau kata orang Papua. Bagi Presiden Jokowi, tak masalah, cuma bagi seorang negarawan kan ini kan tidak bagus bagi pendidikan politik," imbuhnya.

Rommy juga sudah menanggapi peringatan dari SBY. Dia justru mengungkap soal deal kursi pos kabinet untuk AHY antara Jokowi dan SBY.

"Bahwa info yang saya terima, ada sejumlah pertemuan Jokowi dan SBY tahun ini. Pertemuan terakhir SBY dan Jokowi terjadi Ramadan baru lalu, juga sudah menyepakati pos kabinet untuk AHY sebagai bagian dan rencana koalisi. Namun jika hari-hari ini pun SBY berubah, itu juga tidak diharamkan dalam politik. Karena politik itu dinamis," ungkap Rommy dalam keterangannya, Kamis (26/7).


Demokrat membantah keras pernyataan Rommy. PD pun menduga Rommy tengah melakukan upaya 'cuci tangan' karena telah menjanjikan Demokrat bergabung ke koalisi keapda Jokowi.

"Mungkin saja ini upaya 'cuci tangan' Rommy kepada Jokowi yang mungkin sudah telanjur banyak omong ke Jokowi menyampaikan bahwa Demokrat ujung-ujungnya akan ke Jokowi. Mungkin ya, jadi Rommy berusaha mencuci wajahnya di depan Jokowi dengan membangun narasi-narasi yang tidak sesuai kebenaran," tuding Kepala Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat (PD) Ferdinand Hutahaean.

Pernyataan SBY soal Megawati yang menjadi rintangan koalisi dengan Jokowi mendapat banyak sindirian dari partai-partai koalisi pendukung Jokowi. PDIP meminta SBY tak membawa-bawa nama Megawati dari gagalnya koalisi dengan Jokowi.

"Gagal-tidaknya koalisi Pak SBY dan Partai Demokrat lebih karena kalkulasi yang rumit yang dilakukan Pak SBY yang hanya fokus dengan masa depan Mas AHY. Kalau tidak bisa berkoalisi dengan Pak Jokowi karena sikapnya yang selalu ragu-ragu, ya sebaiknya introspeksi dan jangan bawa nama Ibu Mega seolah sebagai penghalang koalisi tersebut," ucap Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto.

Rommy-Ngabalin Disuruh Hati-hati, SBY Jangan BaperFoto: SBY saat bertemu Megawati. (Dok. Setneg)

Partai-partai lain meminta SBY untuk tidak bawa perasaan (baper). Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah Zubir menilai SBY terlalu berlebihan dan sensitif. Inas juga menilai sifat-sifat SBY tersebutlah yang sebenarnya menghambat hubungan untuk bergabung ke koalisi Jokowi.

"SBY lebay, baper, sedikit-dikit tersinggung, justru ketiga sifat SBY tersebut yang menjadikan hambatan hubungannya dengan koalisi Jokowi," ucap Inas kepada detikcom, Kamis (26/7).

Hal yang sama disampaikan oleh Wasekjen PKB Daniel Johan. Dia menilai pernyataan yang disampaikan SBY sebagai upaya menarik perhatian Megawati.

"Mungkin Pak SBY ingin menunjukkan perhatiannya kepada Bu Mega. Politik jangan sensi dan baper, disimpan saja (sendiri)," tuturnya.

Wasekjen PPP Achmad Baidowi menyayangkan pernyataan bernada ancaman itu terlontar dari SBY. SBY pun diharapkan untuk tak perlu mengeluarkan ancaman.

Rommy-Ngabalin Disuruh Hati-hati, SBY Jangan BaperFoto: Jokowi saat bertemu SBY. (Dok Istimewa)

"Kami hanya menyayangkan Pak SBY sebagai politisi senior bicara begitu, yang bahkan dalam kacamata komunikasi publik seperti mengarah pada sikap mengancam. Jadi elite politik itu jangan terlalu 'baper'," sebut Baidowi.

Partai Demokrat membantah sang ketum tengah baper. Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum DPP PD Ferdinand Hutahaean berbicara kedatangan SBY dalam koalisi Jokowi dapat 'matahari kembar'. Dia justru menuding Mega lah yang akan baper karena SBY.

"Bayangkan di situ, Bu Mega itu tidak mau ada dua matahari di sana. Kalau ada SBY di sana, nanti lama kelamaan koalisi malah pindah ke SBY dan justru Mega yang baper," terang Ferdinand.

"Jadi jangan dibilang Pak SBY baper. Yang baper itu Bu Mega yang tidak pernah mau berbaikan bertemu dengan Pak SBY," sambungnya. (elz/nkn)