"Dinamika sosial, khususnya identitas keagamaan, secara umum kita baca Jokowi hari ini relatif kecil elektabilitasnya kepada orang-orang Islam yang tergabung dalam politik," kata direktur riset Median, Sudarto, dalam diskusi di sebuah kafe, Jalan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (26/7/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Median juga melihat tren suara PKB menjelang Pilpres 2019 relatif stabil. Hal itu jadi salah satu keuntungan Jokowi jika memilih Cak Imin sebagai cawapresnya.
"Menurut kami, ini yang jadi latar belakang mengapa Cak Imin menjadi penting bagi Pak Jokowi. Karena PKB jadi partai Islam terbesar," ujarnya.
Hal senada disampaikan peneliti LIPI Lili Romli. Menurutnya, Jokowi harus mencari pendamping dari partai Islam untuk melawan stigma anti-Islam.
"Saya kira masalah politik identitas masih tinggi. Yang kedua, anggapan publik yang dibentuk socmed bahwa Presiden Jokowi anti-Islam. Bagaimanapun, ketika mengusung cawapres, harus memperhatikan 2 hal itu, mau tidak mau harus mencari cawapres yang berbasis partai Islam," kata Lili.
Selain itu, Cak Imin dianggap sudah melakukan pergerakan untuk meningkatkan elektabilitas. Salah satu contohnya mengampanyekan 'Join' dan 'panglima santri'.
"Muhaimin ini berhasil menyebarkan 'Join' (Jokowi-Cak Imin) dan 'panglima santri'. Dampaknya meningkatkan elektabilitas PKB dan terdongkraknya elektabilias Cak Imin," imbuhnya.
Tonton juga video: 'LSI Denny JA: Elektabilitas Airlangga Ungguli Cak Imin & Rommy'
(abw/rvk)










































