SBY Cerita Berkali-kali Diajak Jokowi Berkoalisi

Tsarina Maharani, Zunita Amalia Putri - detikNews
Rabu, 25 Jul 2018 21:57 WIB
Jokowi dan SBY (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta - Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menceritakan berkali-kali diajak bergabung ke koalisi pendukung Joko Widodo (Jokowi). Ajakan pertama dari Jokowi setelah ia terpilih jadi presiden pada 2014.

"Untuk diketahui, ini sejarah, ini kebenaran, harus saya ceritakan apa adanya. Pada Oktober 2014, saya masih presiden, Pak Jokowi sudah jadi presiden terpilih mengatakan kepada saya apakah tidak baiknya Demokrat berada di pemerintahan. Waktu itu saya jawab kepada beliau, barangkali tidak tepat bapak karena dalam pilpres tidak mengusung Pak Jokowi dan tidak mengusung Pak Prabowo," ujar SBY saat jumpa pers di kediamannya, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (25/7/2018) malam.


Bujukan berikutnya datang pada 2015. SBY kembali diajak Jokowi berkoalisi dalam pemerintahan.

"Pertemuan 2015, saya ke Istana menemui beliau untuk mengundang Summit JCCIA yang ada pertemuan semula di Bali, lalu di Korsel. Beliau janji akan hadir. Di situ Pak Jokowi mengulangi, apa tidak sebaiknya Partai Demokrat di dalam pemerintahan. Jawaban saya masih sama," tutur SBY.

[Gambas:Video 20detik]


Ajakan demi ajakan terus disampaikan Jokowi kepada SBY. Namun Demokrat belum memutuskan apakah berkoalisi dengan Jokowi.

"Setelah itu pertemuan sering kami lalukan. Semangatnya, kalau memang cocok, Demokrat bisa mengusung beliau pada Pilpres 2019 dengan harapan kalau beliau ditakdirkan terpilih kembali, Partai Demokrat di pemerintahan kita juga bisa kontribusi di dalam. Semangatnya begitu," kata SBY.


SBY yakin ajakan Jokowi kepada Demokrat tulus. Bahkan SBY sudah diyakinkan oleh Jokowi.

"Setiap kami bertemu Pak Jokowi, selalu saya bertanya 'Pak Jokowi, apakah kalau Partai Demokrat berada di koalisi, partai-partai koalisi bisa terima kehadiran kami', beliau jawab, 'Ya bisa, karena presidennya saya'. Itu terus terang pertemuan saya," paparnya.

"Saya pikir karena yang ajak Pak Jokowi dan kalau Partai Demokrat berada di dalam, why not?" pungkasnya. (dkp/elz)