"Didirikan setelah terjadi konflik yang besar, musibah yang besar di daerah Poso ini. Kita harapkan generasi muda dapat lebih memahami Islam itu sebagai rahmatan lil alamin, supaya memahami Islam itu Islam agama yang damai," kata JK dalam sambutannya di Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 13, Ittihadul Ummah, Poso, Rabu (25/7/2018).
Menurutnya, Islam yang damai disertai dengan persaudaraan dan persahabatan serta memberi makna yang besar untuk kemajuan bersama. JK pun mengungkapkan rasa syukurnya atas eksistensi Gontor Poso, yang sudah memasuki umur ke-10 tahun.
"Kampus ini sudah jauh lebih lengkap dibanding sebelumnya. Itu atas upaya dari para kiai, khususnya pemda dan kita semuanya. Juga masyarakat sekitar di sini yang menerima kampus ini, pondok ini, sebagai sesuatu yang baik. Juga terima kasih kepada para ustaz yang datang dari jauh, yang mengajar di sini untuk tentu bersama-sama memajukan daerah ini," ujarnya.
JK mengatakan kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan ilmu pengetahuan warganya. Ilmu pengetahuan memberi andil besar dalam meningkatkan kesejahteraan warga.
JK berharap Ponpes Gontor Poso berkolaborasi dengan ponpes lainnya dalam mengedukasi masyarakat (Noval Dhwinuari Antony/detikcom) |
JK pun berharap kehadiran Ponpes Gontor di Poso dapat membantu memperbaiki dan melengkapi suasana damai yang sudah terjalin di Poso. Bersama-sama dengan ponpes lainnya, JK meminta pondok pesantren di Poso berlomba-lomba dalam kebaikan.
"Setelah konflik, tentu kita mengalami suasana yang penuh dengan keragu-raguan, penuh dengan kecurigaan, penuh dengan kadang-kadang balas dendam yang terjadi. Oleh karena itu, kita harus membina masyarakat Poso ini sebaik-baiknya untuk melihat jauh ke depan," tuturnya.
"Masa lalu adalah masa lalu. Tapi yang kita harapkan adalah masa depan. Masa depan itu dipunyai oleh anak-anak kita, cucu-cucu kita, yang mempunyai ilmu pengetahuan yang tentunya maju," imbuhnya. (nvl/jbr)












































JK berharap Ponpes Gontor Poso berkolaborasi dengan ponpes lainnya dalam mengedukasi masyarakat (Noval Dhwinuari Antony/detikcom)