Indonesia Ajukan 3 Cagar Biosfer Baru ke UNESCO

Indonesia Ajukan 3 Cagar Biosfer Baru ke UNESCO

Raja Adil - detikNews
Selasa, 24 Jul 2018 14:59 WIB
Indonesia Ajukan 3 Cagar Biosfer Baru ke UNESCO
Foto: Ilustrasi hutan di Way Kambas (Thinkstock)
Palembang - Indonesia mengajukan tiga lokasi untuk mendapat pengakuan cagar biosfer kepada UNESCO. Ketiga daerah yang diajukan itu dinilai layak mendapat pengakuan karena letak dan kondisinya masih sangat strategis.

"Sejak tahun 1977 Indonesia baru punya 11 cagar biosfer. Sekarang ini berencana menambah 3 cagar biosfer lagi sebagai lokasi untuk penelitian, serta pelestarian sumber daya alam di Indonesia," kata Dirjen Konservasi SDA dan Ekosistem KLHK, Wiratno saat ditemui di Palmbang, Selasa (24/7/2018).

Ketiga cagar biosfer tersebut antara lain, Berbak Sembilang di Sumatera Selatan -Jambi, Betung Karihun Danau Sentarum, serta Kapuas Hulu dan Gunung Rinjadi di Lombok.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikatakan Wiratno, 3 cagar biosfer yang disetujui nantinya harus sejalan dengan kehidupan di sekitar lokasi. Bahkan jika ada desa dan kehidupan masyarakat di sekitarnya harus ikut terlibat, terutama untuk di Sembilang, Banyuasin.

"Programnya harus sinkron dengan desa yang ada di pinggir kawasan Sembilang, harus bisa dikelola bersama-sama. Jadi ecotourisme itu berjalan berdampingan dengan kehidupan disekitar di kawasan, bukan diusir," kata Wiratno.

Untuk di Sembilang sendiri, kata Wiratno, saat ini memang masih terkendala oleh akses. Dimana untuk sampai ke lokasi, para pengunjung harus menempuh jalur sungai Musi dan memakan waktu yang cukup lama.

"Di sana ada burung imigran. Ini sangat bagus, tapi memang akses cukup jauh dan harus dibuat lagi akses yang lebih mudah agar nantinya pengunjung mudah datang," katanya.

Senada disampaikan Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmo Wati yang juga Ketua Komite Nasional MAB UNESCO. Besar harapan Indonesia ketiga nominasi yang diajukan diterima dan diserujui sebagai cagar biosfer.

"Kami berharap tiga nominasi tersebut bisa disetujui dan ditetapkan UNESCO sebagai cagar budaya baru. Sehingga ini dapat menambah 11 cagar biosfer yang telah ada di Indomesia," kata Enny.

Tak hanya itu, cagar biosfer di Indonesia nanti juga diharapkan dapat menambah cagar biosfer di dunia. Dimana saat ini tercatat ada sekitar 669 cagar biosfer dan tersebar di 120 negara.

Saat disinggung terkait dengan sidang ke-30 MAB-ICC UNESCO hari ini, Enny menyebut fokus utamanya adalah untuk membahas dan mengembangkan sistem cagar biosfer yang efektif dan efisien.

Termasuk memberi kesempatan kepada Indonesia untuk membumtikan adanya pengakuan dan peran Indonesia sebagai negara kaya sumber daya alam hayati di dunia.

"Hari ini menjadi momen untuk promosi Indonesia dalam pengembangan cagar biosfer untuk meningkatkan kehidupan masyarakat dan sumber hayati yang berbasis multi pihak dan lintas sektoral," katanya.

Untuk diketahui, sidang ke-30 MAB-ICC UNESCO sendiri dihadiri 300 partisipan dari 45 negara anggota World Nwtwork of Biosphere Reserve (WNBR) dari Asia, Australia, Afrika dan Amerika. Termasuk Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin dan perwakilan kantor utama UNESCO di Paris.

Dalam agenda sudang direncanakan menetapkan beberapa cagar biosfer baru yang telah diajukan negara peserta WNRB. Termasuk diantaranya pengajuan 3 cagar biosfer baru di Indonesia. (asp/asp)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads