DPR Minta Menhan RI-Malaysia Bahas Pengepungan Kapal
Sabtu, 30 Jul 2005 14:45 WIB
Jakarta - Pengepungan kapal RI oleh Malaysia diminta diselesaikan dengan kepala dingin. DPR mendesak menteri pertahanan kedua negara membahas insiden di Perairan Jumur, Sumatra Utara ini.Anggota Komisi I DPR RI Ade Daud Nasution memprotes keras insiden pengepungan kapal yang terjadi pada 25 Juli 2005 itu. "Kalau memang Malaysia macem-macem, kalau perlu kita pakai peluru," tantang politisi dari Fraksi Partai Bintang Reformasi ini di Mario's Place, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (30/7/2005).Untuk itu, menurut dia, pemerintah sebaiknya membenahi mental aparat kepolisian. "Sebab selama ini polisi Indonesia takut dengan polisi Malaysia," sesalnya.Insiden di perairan Jumur, Sumut, itu terjadi saat patroli Polair Polda Sumut dengan nomor lambung 201 memergoki tiga kapal trawl Malaysia melakukan penangkapan ikan di perairan RI. Ketiga nakhoda kapal tersebut langsung diminta menandatangani berita acara penangkapan. Tapi, mereka menolak. Lalu patroli Polair menggiring ketiga kapal asing itu menuju pantai untuk ditahan.Iring-iringan kapal tersebut berpapasan dengan Kapal Perang Angkatan Laut Malaysia Kinabalu 14 dan helikopter Navy M-502. Pertemuan terjadi pada posisi 03 derajat-20 menit-00 detik utara dan 100 derajat-20 menit-00 detik timur.Melihat kedatangan kapal dan heli militer negaranya, empat ABK (anak buah kapal) salah satu kapal Malaysia itu menjadi besar kepala. Mereka lalu menyerang seorang personel polisi yang bertugas menjaga salah satu kapal. Bahkan, mereka mendorong seorang anggota polisi itu ke laut. Setelah itu, di bawah todongan senjata, kapten kapal patroli Polair yang dipaksa naik ke kapal perang Malaysia untuk bernegosiasi. Angkatan Laut Malaysia meminta kapal patroli Polair melepaskan ketiga kapal pencuri ikan. Dengan terpaksa patroli Polair akhirnya melepaskan ketiga kapal itu.
(aan/)











































