DetikNews
Minggu 22 Juli 2018, 22:49 WIB

Sejarah Kakbah Jadi Kiblat Salat

Niken Purnamasari - detikNews
Sejarah Kakbah Jadi Kiblat Salat Kakbah di Mekah/Fajar Pratama detikcom
Jakarta - Kiblat merupakan arah yang dituju bagi umat muslim dalam melaksanakan ibadah salat maupun ketika tawaf di Baitullah. Kiblat mengarah ke Kakbah, Mekah dan memiliki nilai historis. Masalah penentuan kiblat ini sempat menjadi persoalan di awal adanya Islam.

Kiblat memiliki arti arah pertemuan. Pada awal kemunculan Islam, umat muslim bebas menghadap kiblat ke mana saja untuk melaksanakan salat. Hal itu berdasarkan firman Allah SWT di Alquran dalam surat Al Baqarah ayat 115.

"Dan milik Allah timur dan barat. Ke manapun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah. Sungguh Allah Maha Luas, Maha Mengetahui"

Setelah Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekah ke Madinah, posisi kiblat berubah ke arah Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa) di Yerusalem. Dalam buku 'Di Tengah Pusaran Ka'bah' yang ditulis Akhmad Siddiq Thabrani dijelaskan umat muslim menghadapi tantangan soal kiblat saat berada di Madinah.



Di wilayah itu, kaum muslim hidup berdampingan dengan pemeluk agama Yahudi dan Kristiani. Saat itu, kaum Yahudi juga menjadikan Baitul Maqdis sebagai kiblat mereka.

Pada satu sisi, kaum Yahudi merasa senang karena mereka mendapat dukungan dan pembenaran dari muslim. Namun di sisi lain, perubahan arah kiblat banyak tidak disukai orang muslim meskipun pada akhirnya mereka tetap melakukan karena hal itu adalah perintah Allah.

Kondisi tersebut terjadi selama 16 hingga 17 bulan. Kaum muslim yang berada di Madinah rindu akan tanah kelahiran mereka di Mekah. Begitupun kerinduan terhadap Kakbah.

Di tengah kerinduan dan kegalauan kaumnya akan arah kiblat, Rasulullah berdoa kepada Allah kiblat dapat berubah ke Kakbah yang menjadi kiblat Nabi Ibrahim. Allah mengabulkan doa Rasulullah SAW melalui firman dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 144.

"Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Majsjid al-Haram. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan"

Saat menerima perintah itu, Rasulullah tengah mengerjakan salat Zuhur pada dua rakaat di masjid Bani Salamah. Begitu masuk rakaat ketiga dan keempat, arah kiblat berubah dengan menghadap Kakbah. Dari peristiwa itulah kini masjid tempat Rasulullah salat tersebut dikenal dengan masjid Qiblatain (dua kiblat).
(nkn/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed