DetikNews
Sabtu 21 Juli 2018, 18:30 WIB

Menlu Malaysia Temui Ketum Muhammadiyah, Bahas Terorisme

Parastiti Kharisma Putri - detikNews
Menlu Malaysia Temui Ketum Muhammadiyah, Bahas Terorisme Foto: Parastiti Kharisma Putri/detikcom
Jakarta - Menteri Luar Negeri Malaysia Dato Saifuddin Abdullah bertemu dengan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir di Pusat Dakwah Muhammadiyah sore ini. Dalam kesempatan itu, Saifuddin bersama Haedar membahas keterlibatan gerakan Islam dalam memerangi terorisme.

"Menteri Luar Negeri Malaysia yang pertama memang menjalin kembali hubungan Indonesia, termasuk Muhammadiyah. Kedua, kita ingin bergerak untuk program-program progresif di mana gerakan-gerakan Islam itu terlibat dalam keputusan-keputusan penting menyangkut negara, termasuk dalam counter-terrorism," kata Haedar di Kantor Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (21/7/2018).



Terkait hal itu, Saifuddin menuturkan perihal terorisme memang menjadi perhatian dari Kementerian Luar Negeri ataupun ormas di Malaysia. Untuk itu, ia mengatakan pihaknya akan menjalin komunikasi intens dengan Muhammadiyah untuk melancarkan pencegahan terorisme tersebut.

[Gambas:Video 20detik]

"Soal counter-terrorism kita ada understanding tadi walaupun masih awal, masih informal tapi ada understading untuk beberapa orang dari Kementerian Luar Negeri atau ormas dari Malaysia yang akan berhubung terus dengan Muhammadiyah untuk diperhalusi bidang-bidangnya," sebut Saifuddin dalam kesempatan yang sama.

"Sebagai contoh, apa yang kita maksudkan di kalangan gerakan Islam, di kalangan Islamic movement kita sering ketemu untuk conference seminar majelis ilmu. Meningkatkan peran gerakan Islam dalam proses membuat keputusan," sambungnya.

Dato Saifuddin menyayangkan adanya perspektif yang muncul bahwa terorisme muncul dari negara-negara Islam. Padahal, ia menuturkan, terorisme pertama kali terjadi bukanlah dari Islam.

"Ini yang kami bincangkan tadi. Pertama sekali, terrorism itu asalnya bukan Islam. Dia datang dari tempat lain, tapi ada negara yang seolah-olah menjadi kilang yang melahirkan teroris atas nama Islam itu," kata Saifuddin.

"Malangnya kesan itu datang ke sini, datang ke wilayah ini. Kesan yang (negatif) itu datang ke Indonesia, datang ke Malaysia, datang ke selatan Filipina, ke selatan Thailand, dan juga di satu-dua tempat yang lain," sambungnya.

Untuk itu, ia pun mengimbau deretan-deretan negara Islam lebih kompak dalam memerangi isu terorisme yang berdampak pada negara-negara Islam tersebut.

"Jadi, walaupun terrorism itu bukan asli asalnya dari negara Islam, tapi sebenarnya kalau kita di antara deretan Islam itu lebih kompak. Kerja sama kita lebih kompak," ujar Saifuddin.

Sebagai langkah konkret, ia menuturkan, negara Islam perlu menyumbangkan gagasan untuk penyelesaian masalah tersebut. Hal itu, dikatakan Saifuddin, sebagai bukti bahwa gagasan tak hanya muncul dari negara-negara Barat.

"Kita boleh menawarkan kaidah. Dan menawarkan kaidah ini penting sebab kita tidak boleh hanya biarkan (negara) Barat saja yang menawarkan kaidah. Seolah-olah hanya barat yang tahu kaidah menangani masalah dari terrorism dan extremism," sebutnya.
(yas/nkn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed