DetikNews
Jumat 20 Juli 2018, 17:26 WIB

Diprediksi Fahri Bakal 'Innalillahi', Ini Suara PKS Tiap Pemilu

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Diprediksi Fahri Bakal Innalillahi, Ini Suara PKS Tiap Pemilu Fahri Hamzah (Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta - Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah meyakini Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tak lolos parliamentary threshold di Pemilu 2019. Padahal Fahri bisa duduk di bangku DPR hingga kini melalui PKS.

"Menurut saya, PKS ini tidak ada masa depannya. Karena itu, wajar kalau orang menarik diri dari sana dan wajar kalau prediksinya nggak lolos threshold," kata Fahri di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (20/7/2018).


Tonton juga video: 'Fahri Hamzah: JK di Masa Jokowi Cuma Embel-embel Saja'




Fahri menyatakan demikian setelah dimintai tanggapan atas hasil survei LIPI yang menunjukkan perolehan suara PKS tak memenuhi syarat ambang batas minimal parliamentary threshold. PKS diprediksi tak lolos masuk ke DPR.

Menurut UU No 7 Tahun 2017, parliamentary threshold adalah 4%. Dalam survei LIPI pada 19 April-5 Mei 2018, PKS hanya mendapat 3,7% suara responden.

Ada pula survei LSI Denny JA pada 28 April-5 Mei 2018 yang memperlihatkan perolehan suara PKS 2,20%. Namun pada survei Poltracking Indonesia, 27 Januari-3 Februari 2018, suara PKS adalah 4,6%, sehingga masih memungkinkan lolos ke DPR.



Sejak didirikan pada 1998, PKS (awalnya bernama Partai Keadilan) selalu lolos masuk DPR. Namun kini PKS diprediksi bakal tak bisa menempatkan kader di parlemen.

Pemilu pertama yang diikuti partai tersebut adalah pada 1999. Saat itu Partai Keadilan memperoleh 1,36% suara nasional sehingga berhak atas 7 kursi Dewan. PK berada di posisi ketujuh.

Presiden Partai Keadilan yang pertama adalah Nurmahmudi Ismail. Nurmahmudi kemudian diangkat menjadi Menteri Kehutanan oleh presiden ke-3 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Nurmahmudi lalu digantikan Hidayat Nur Wahid sebagai Presiden PK.



Partai Keadilan kemudian harus mengubah nama setelah berlakunya UU No 3 Tahun 1999 tentang Pemilu. Waktu itu ada syarat minimal harus memiliki 2% suara mengikuti pemilu periode selanjutnya atau pada 2004. PK menjadi PKS pada 2003.

Di Pemilu 2004, PKS mendapat 7,34% dan menduduki peringkat ke-6. Sebanyak 45 kadernya duduk di kursi Dewan dan Hidayat Nur Wahid terpilih menjadi Ketua MPR. Hidayat pun mundur dari posisi Presiden PKS, yang kemudian digantikan Tifatul Sembiring.

Pada Pemilu 2009, peringkat PKS makin naik. PKS menduduki peringkat ke-4 dengan perolehan 7,88% suara nasional. PKS mendapat 57 kursi DPR.

Tifatul kemudian ditunjuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi Menkominfo. Posisi Tifatul di PKS lantas digantikan Luthfi Hasan Ishaaq pada 2010.

Luthfi kemudian tersangkut kasus korupsi hingga akhirnya ditahan. Luthfi lalu digantikan Anis Matta pada Februari 2013. Anis Matta, yang semula merupakan Wakil Ketua DPR, kemudian digantikan Sohibul Iman.

Perolehan suara PKS sedikit menurun pada Pemilu 2014. PKS mendapat 6,79% suara nasional saat itu dan berada di peringkat ke-7. PKS mendapat 40 kursi DPR atau 7,1% dari total kursi.

Kini Presiden PKS dijabat Sohibul Iman sejak 2015. Fahri, yang sempat dipecat oleh Sohibul dan kemudian melawan lewat jalur hukum, memprediksi PKS bakal tak bisa lagi menempatkan kader di DPR periode 2019-2024.

"Mungkin inilah umur PKS 20 tahun, selesai tahun inilah. Kan kita dulu deklarasi 1998, ini 2018, mungkin ini innalillahiwainnailaihirojiun," ujar Fahri di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (17/7).

Apakah prediksi Fahri bakal jadi kenyataan? Atau justru PKS yang memberi bukti bahwa prediksi itu cuma dongeng semata?


Diprediksi Fahri Bakal 'Innalillahi', Ini Suara PKS Tiap Pemilu

(bag/van)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed