DetikNews
Jumat 20 Juli 2018, 11:26 WIB

TNI AL Duga Pipa Gas Bocor di Cilegon Kena Jangkar Kapal

Muhammad Iqbal - detikNews
TNI AL Duga Pipa Gas Bocor di Cilegon Kena Jangkar Kapal Semburan di perairan Laut Bojonegara, Banten, akibat pipa gas bocor. (Dok. Istimewa)
Cilegon - TNI AL melalui Pusat Hidrografi dan Oseanografi (Pushidros) melakukan investigasi terkait pipa gas bocor di perairan Banten. Pipa gas itu diduga patah akibat terkena jangkar kapal.

Pihak China National Offshore Oil Corporation (CNOOC) selaku pemilik pipa gas bawah laut saat itu meminta bantuan TNI AL menginvestigasi kebocoran pipa gas. Tim Pushidros kemudian diturunkan untuk meneliti penyebab pipa gas bocor.

"Alhamdulillah Pushidros sekarang sudah mampu untuk memberikan jawaban tentang situasi bawah air pascaterjadi patahnya pipa gas," kata Kepala Pushidros Laksamana Muda Harjo Susmoro kepada wartawan setelah menggelar keterangan pers di Cilegon, Banten, Jumat (20/7/2018).


Tim investigasi bawah laut mulai melakukan penelitian sekitar satu minggu. Hasilnya, tim menemukan pipa dalam keadaan patah dan terdapat goresan akibat benda tajam yang diduga jangkar kapal. Selain itu, ada bekas garukan tanah selebar 4 meter dan kedalaman 2 meter.

"Bahwa memang diduga adanya benda keras yang membuat pipa itu patah. Indikasi benda keras kalau ada garukan di tanah selebar 4 meter kedalaman 2 meter kemungkinan yang paling ada adalah di laut, yaitu besi, logam yang jatuh, dan diperkirakan itu adalah jangkar," ujarnya.

Hasil itu didapat salah satunya dengan menggunakan metode side scan sonar yang mampu mendeteksi di kedalaman dasar laut. Pipa gas yang awalnya ditanam di bawah laut itu didapati bengkok akibat tekanan gas saat pipa tersebut lantaran terkena benda diduga jangkar.


Dugaan terkena jangkar kapal itu dilihat dari bekas goresan yang mengenai pipa gas. Selain itu, benda keras di bawah laut dipastikan hanya jangkar kapal yang bisa merobek pipa gas karena beban jangkar mencapai 6 ton.

Harjo mengungkapkan, sesuai peraturan internasional, seharusnya di wilayah yang terdapat instalasi listrik atau pipa di bawah laut tidak boleh ada aktivitas kapal sejauh 1.750 m. Apabila terdapat aktivitas, sudah tentu ada pelanggaran.

"Jadi dalam UNCLOS 82, itu aturan internasional itu disebutkan bahwa apabila ada instalasi bawah air di situ pemerintah akan menentukan daerah terlarang sejauh 1.750 m dari kanan kiri tidak boleh ada kegiatan labuh jangkar ataupun kegiatan bawah air di situ," kata dia.

"Sehingga kalau seandainya ada didapati kapal melaksanakan kegiatan itu ada atau tidak ada kerusakan itu sudah pelanggaran," imbuhnya.

Hasil investigasi tim Pushidros ini akan diserahkan ke pihak kepolisian sebagai bahan penyelidikan. Penyerahan hasil investigasi itu akan dilakukan dalam waktu dekat.
(idh/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed