DetikNews
Kamis 19 Juli 2018, 11:43 WIB

Diduga Palsukan Sertifikat, Mertua Cucu Elvy Sukaesih Ditangkap

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Diduga Palsukan Sertifikat, Mertua Cucu Elvy Sukaesih Ditangkap Kasat Reskrim Polres Jaksel AKBP Stefanus (Zunita/detikcom)
Jakarta - Tim Polres Jakarta Selatan menangkap seorang pria bernama Husin AM terkait kasus dugaan penggelapan dan pemalsuan sertifikat tanah serta rumah. Husin ditangkap setelah beberapa mangkir dari panggilan polisi.

"Iya ada tersangka yang kami bawa ke Polres atas nama tersebut dengan kasus tipu gelap dan pemalsuan," kata Kasat Reskrim Polres Jaksel AKBP Stefanus Tamuntuan kepada detikcom, Kamis (19/7/2018).

Stefanus menerangkan kasus dugaan penggelapan dan pemalsuan sertifikat tanah serta bangunan itu dilaporkan oleh DE pada 2017. Setelah melalui proses penyelidikan dan penyidikan, Husin kemudian ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat Pasal 378 dan 263 KUHP.

"Setelah rangkaian penyelidikan dan penyidikan, kemudian kita tetapkan sebagai tersangka, terus kita cari dan amankan," ujarnya.


Husin ditangkap di kontrakannya di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, pada Rabu (18/7) siang. Stefanus mengatakan pihaknya melakukan upaya paksa karena Husin selalu mangkir dari panggilan polisi.

"Tersangka mangkir/tidak memenuhi panggilan penyidik untuk diperiksa, sehingga dilakukan upaya paksa dibawa ke kantor Polres Jaksel dari rumah kontrakan tersangka di Mampang Prapatan, Jaksel," ujarnya.

Secara terpisah, keponakan dari pelapor berinisial DE, Rizky Gilang Perkasa, mengatakan Husin masih mempunyai ikatan kekeluargaan dengan pedangdut Elvy Sukaesih. Menurut Gilang, Elvy mempunyai cucu bernama Hila Zachira, yang menikah dengan anak Husin yang bernama Ahmad Muhajir alias Ajir.

"Jadi Husin AM ini menikahkan anaknya dengan cucu Elvy Sukaesih, itu jatuhnya apa ya? Elvy Sukaesih punya cucu namanya Hila. Nah nama orang tua dari Hila Zachira ini lupa yang mana, tapi anak kandungnya Elvy Sukaesih. Jatuhnya apa ya? Seperti besan kali ya," sambungnya.

Gilang lantas menceritakan awal mula peristiwa penggelapan dan pemalsuan yang dilakukan Husin pada 2016 itu. Paman Gilang, DE, baru melaporkan kejadian itu pada 6 Februari 2017.


Cerita bermula saat Husin mengontrak di rumah DE. Husin saat itu meminjam sertifikat rumah kontrakannya dengan alasan untuk membayar listrik.

"Bapaknya Muhajir (Husin, red) ini melakukan penipuan pemalsuan sertifikat tanah dan rumah. Dia ini mengontrak rumah om saya. Tiba-tiba dia meminjam sertifikat asli rumah dengan alasan untuk pembayaran listrik," ujar Gilang.

Gilang menuturkan pamannya sempat menolak meminjamkan sertifikat asli itu. Pasalnya, pembayaran listrik tidak perlu menggunakan sertifikat asli, melainkan cukup dengan fotokopi.

"Itu kan sempat disangkal sama om saya. Karena untuk apa sertifikat asli? Sedangkan sertifikat fotokopi saja bisa, nah karena setelah ngobrol-ngobrol, diantarkanlah sertifikat aslinya," urai Gilang.

Setelah dibujuk, DE akhirnya mengantarkan dua buah sertifikat itu ke rumah kontrakan yang ditempati Husin. Setelah dua jam berlalu, DE kemudian kembali membawa dua sertifikat tersebut ke rumahnya.


"Lalu setelah diantarkan, om saya menunggu di teras rumah yang disewa oleh bapak Muhajir (Husin, red). Itu hanya selang waktu dua sampai tiga jam begitu dikembalikan, om saya pulang," imbuhnya.

Namun, setelah dicek di rumah, DE merasa janggal saat melihat sertifikat yang dikembalikan Husin. DE lalu mengecek dua sertifikat tersebut ke BPN. Berdasarkan hasil pemeriksaan, BPN menyatakan tak pernah mengeluarkan sertifikat tanah seperti yang dikembalikan Husin. Dua sertifikat itu diduga dipalsukan, sedangkan yang asli tidak dikembalikan.

"Pas dicek di rumah kok ada yang aneh, ternyata yang aneh cap stempel dari BPN itu, sertifikat zaman dahulu kan ejaannya ejaan lama, tulisan Jakarta itu ada 'd'-nya di depan. Yang dikembalikan oleh si Husin ini, itu sudah ejaan baru. Makanya om saya berangkat ke BPN Jaksel besoknya untuk memastikan sertifikat ini sah atau tidak. Ternyata keterangan dari BPN Jaksel, BPN Jaksel tidak pernah menerbitkan sertifikat tersebut. Berarti yang dikembalikan Husin itu palsu. Dan dia mengakui itu semua," beber Gilang.

DE kemudian melaporkan dugaan pemalsuan itu ke Polres Jakarta Selatan. Gilang mengaku pamannya rugi hingga Rp 60 miliar atas pemalsuan sertifikat tanah seluas 1.700 m2 itu.


(knv/mea)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed