DetikNews
Rabu 18 Juli 2018, 18:49 WIB

Saat JK Ditanya soal Freeport hingga Terorisme oleh Capaja TNI-Polri

Ibnu Hariyanto - detikNews
Saat JK Ditanya soal Freeport hingga Terorisme oleh Capaja TNI-Polri Wapres JK dalam acara pembekalan capaja di Cilangkap. (Foto: Dok. Setwapres)
Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) memberikan pembekalan kepada 724 calon perwira remaja (capaja) di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur. Tak hanya memberi pembekalan, JK juga melayani pertanyaan capaja, dari soal PT Freeport, poros maritim, hingga aksi terorisme.

Para capaja itu diberi kesempatan bertanya setelah JK selesai memberi pembekalan. Sesi tanya-jawab bersama JK dimoderatori oleh KSAD Jenderal Mulyono.


Pertama, capaja dari TNI AD bernama Ardi Dwi Saputra bertanya soal apakah pemerintah akan mengakuisisi seluruh saham PT Freeport. JK pun menjelaskan alasan Indonesia hanya mengakuisisi 51 persen saham PT Freeport.

"Kita kenapa hanya 51 persen, karena kita hanya membutuhkan teknologi dari Freeport sendiri. Kita bisa saja berusaha lebih besar, namun masih butuhkan kerja sama. Baik kerja sama teknologi, juga kerja sama daripada pemasaran dan manajemen proyek besar ini," kata JK di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (18/7/2018).

Menurut JK, dengan akuisisi saham sebesar 51 persen, Indonesia akan menguasai manajemen secara keseluruhan. Namun, secara teknis, Indonesia tetap bekerja sama dengan PT Freeport untuk urusan teknologi.

"Tapi secara teknis, kita bisa bekerja sama dengan Freeport yang telah menguasai teknologi. Jadi kita akan mendapat penghasilan lebih banyak, tenaga kerja yang lebih banyak, bagi teman-teman yang menguasai teknologi pertambangan dan sebagainya akan lebih banyak terlibat sehingga banyak menguntungkan bangsa ini," ucap JK.


Bukan hanya soal Freeport, JK juga ditanya soal poros maritim dunia. Menurut JK, secara geografis, Indonesia adalah negara kepulauan. Karena itu, diperlukan kekuatan maritim yang kuat untuk menjaga seluruh bagian Indonesia.

"Selain itu, di pertahanan, negara kepulauan punya banyak perbatasan. Kalau kita tidak punya kekuatan yang baik yang kuat akan berbahaya. Kita juga punya pulau-pulau kecil terluar akan diduduki dari luar. Karena kita negara kepulauan transportasi yang penting itu lewat laut. Karena itu, maka poros maritim dibentuk selain untuk pertahanan juga untuk perdagangan," jelas JK.

Terakhir, JK juga mendapat pertanyaan soal maraknya aksi teror di markas kepolisian serta pengesahan RUU Terorisme yang dinilai lama. JK menjelaskan para pelaku teroris bisa berkembang, bahkan di dalam sel tahanan.

"Teroris itu digabung dia jadi universitas. ISIS itu dipimpin Al-Baghdadi yang pernah dipenjara yang justru makin memperdalam ilmunya. Kalau dipisah, jadi virus bagi tahanan lain. Banyak kejadian juga teroris yang di penjara umum memengaruhi yang lain. Kalau digabung jadi lebih tinggi ilmunya. Jadi serba salah kita jadinya," jelas JK.


Dia mengatakan para teroris itu juga menyerang polisi karena jaringan mereka banyak yang ditangkap tim Densus 88 Antiteror. JK menyebut 2.000-an teroris telah ditangkap oleh tim Densus 88.

"Sehingga kantor-kantor kepolisian di Surabaya, Pekanbaru, dan beberapa tempat menjadi target sasaran dari teroris. Memang risiko jabatan suatu pekerjaan seperti itu. Kalau berhasil efeknya seperti itu," pungkas JK.
(ibh/rna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed