DetikNews
Rabu 18 Juli 2018, 13:49 WIB

Di Depan Capaja, Panglima Bicara Ancaman Teror hingga Denuklirisasi

Ibnu Hariyanto - detikNews
Di Depan Capaja, Panglima Bicara Ancaman Teror hingga Denuklirisasi Foto: Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. (Usman Hadi/detikcom)
Jakarta - Panglima TNI Marsekal Hadi Tjajanto memberikan pembekalan kepada 724 calon perwira remaja (Capaja) di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur. Hadi menjelaskan berbagai ancaman global saat ini, mulai dari ancaman siber hingga denuklirisasi.

"Apabila melihat ancaman global bahwa saat ini kita sedang memasuki ancaman yang begitu besar yaitu ancaman siber dan ancaman biologi. Dunia juga ditandai dengan ancaman perang dagang dan narkoba, terorisme, ketegangan laut, dan denuklirisasi," kata Hadi di GOR Ahmad Yani, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (18/7/2018).
Hadi mengatakan semua ancaman ini sekarang berbasis, mengacu pada perkembangan ilmu teknologi dan komunikasi yang disebut dengan revolusi industri 4.0. Perkembangan ilmu teknologi dan komunikasi itu ibarat dua mata pisau, ada yang menguntungkan dan juga bisa memberikan ancaman terhadap kedaulatan sebuah negara.

"Kerugiannya mudah dijadikan doktrin, dengan memasukkan paham-paham radikal, paham yang jelek, mulai dikelompokkan. Ini bagian dari ancaman global siber treat. Di satu sisi menjadi ancaman, ini adalah bagian dari perkembangan teknologi dan komunikasi, ini ancaman industri 4.0 yang harus disikapi dengan bijak dan ini bentuk ancaman universal," papar Hadi.

Selain dunia siber, ancaman juga datang dari perkembangan dunia biologi. Menurut Hadi, mulai banyak orang tak bertanggung jawab membuat kacauan memanfaatkan perkembangan ilmu biologi.

"Tapi ancaman juga ada, adanya agen biologis yang dilepas. Dulu penyakit itu kopok, gudik, difteri, campak itu ada. Penyakit itu seharusnya sudah tidak ada tapi oleh pihak yang menginginkan untuk menjual vaksin mulailah melepas agen biologis itu," jelasnya.


Hadi kemudian mencontohkan beberapa fenomena penyakit yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia mulai dari difteri hingga campak di Asmat. Dari fenomena itu, menurut Hadi, bangsa Indonesia patut mencurigai apakah itu alami atau memang sengaja dibuat.

"Difteri itu ancaman tahun 1977 dan sudah habis, kita harus curiga apakah ini alami atau by design. Baru-baru ini kita ada ancaman di Asmat, campak di sana. Padahal campak itu tidak mudah dalam skala besar kena semua dan meninggal, kita harus perlu curiga apakah itu alami atau by design," urai Hadi.

Untuk itu, dia berpesan kepada para capaja untuk terus berlatih, belajar dan terus mengikuti perkembangan zaman. "Dua ancaman ini yang harus benar-benar kita waspada dan belajar cara menangkalnya," tegas Hadi.


(ibh/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed