Omset Turun 50 Persen, Pedagang Ayam Mengeluh
Kamis, 28 Jul 2005 19:29 WIB
Jakarta - Merebaknya kasus flu burung di Indonesia mengakibatkan omset penjualan ayam menurun hingga 50 persen. Para pedagang daging ayam potong pun mengeluhkan berkurangnya pendapatan mereka ini."Pembeli sepinya minta ampun mas. Padahal kalau sore atau malam, harganya sudah saya turunkan menjadi Rp 8.000 dari biasanya Rp 12.000 per ekor. Tetap saja tidak laku," keluh Sumini (40), pedagang ayam di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, kepada detikcom, Kamis (28/7/2005).Menurut para pedagang, penurunan omset ini sudah berlangsung sejak dua minggu terakhir, pasca meninggalnya auditor BPK Iwan Siswara akibat flu burung. Jika sebelumnya mereka biasa menjual 50-60 ekor ayam per hari, sekarang mereka hanya bisa menjual 20-30 ekor ayam per hari."Kadang-kadang seharipun 25 ekor saja tidak habis. Sepertinya sih orang-orang takut kena flu burung kalau makan ayam," kata Kenot (36), yang telah berdagang ayam di Pasar Minggu selama hampir tujuh tahun.Sementara itu, fenomena serupa juga terjadi di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Bahkan penurunan penjualan ayam sangat signifikan mencapai 60 persen. "Kalau ada yang beli berarti tidak takut sama flu burung. Paling banyak saya hanya bisa jual 20 ekor per hari," kata Basri.Penjualan Telur Tak TerpengaruhMeski penjualan ayam menurun, tampaknya flu burung tidak mempengaruhi penjualan telur. Bahkan, di sejumlah pedagang, harga telur tiap hari semakin naik. Di Pasar Minggu dan Kramat Jati, telur ayam dijual rata-rata Rp 9.500 per kg."Kayanya orang-orang pada berfikir, daripada makan ayam mendingan makan telurnya yang lebih aman," tukas Maritje (43) pedagang telur di Pasar Kramat Jati.
(fab/)











































