Di Depan Santri, Zulkifli Hasan Cerita Dia Anak Petani

Robi Setiawan - detikNews
Selasa, 17 Jul 2018 20:43 WIB
Foto: Dok. MPR
Mojokerto - Ketua MPR Zulkifli Hasan berkunjung ke Pondok Pesantren Ammanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur. Dalam kesempatan ini, dia menceritakan bahwa ayahnya adalah seorang petani yang biasa menanam padi, cengkih, kopi, dan jenis tanaman lainnya, sehingga sebagai anak petani dirinya terbiasa menggembala kerbau.

"Saya biasa naik kerbau," kata Zulkifli di hadapan para santri, Selasa (17/7/2018).

Menurutnya, ayahnya menyekolahkan dirinya di madrasah ibtidaiyah dan selanjutnya ke pendidikan guru agama. Diceritakannya, saat sekolah, hidupnya penuh dengan kesederhanaan, sekolah berjalan kaki, dan bangunan gedung sekolah yang biasa saja.

"Tak sebagus gedung di pesantren ini," tuturnya.

Dia bercerita, bersekolah penuh dengan perjuangan dan kesederhanaan membuat dirinya menjadi pengusaha sukses, anggota DPR, dan Menteri Kehutanan. "Dan sekarang menjadi Ketua MPR," jelasnya.


Untuk itu, Zulkifli mendorong para santri yang menempuh pendidikan dengan fasilitas lengkap dan gedung yang megah bisa lebih baik dari dirinya.

"Kalian harus bersyukur bisa nyantri di pesantren sebagus ini," ujarnya.

Menurutnya, Ammanatul Ummah memiliki sistem pendidikan yang lengkap, ada 1.000 tenaga pengajar dan pengelola, serta gedung yang lengkap. "Dari sinilah pendidikan Ammanatul Ummah tak kalah dengan sekolah lainnya," paparnya.

Zulkifli berpesan kepada para santri untuk mensyukuri nikmat bersekolah di Ammanatul Ummah. Selain itu, dia berpesan agar para santri belajar sungguh-sungguh.

"Jangan sia-siakan waktu sedikit pun agar kalian lebih hebat," pesannya.

Dia juga berharap anak pesantren tidak minder. Menurut Zulkifli, tidak semua anak Indonesia bisa menikmati sekolah, sehingga para santri harus bahagia dapat bersekolah di Ammanatul Ummah. "Belajar di sini akan menjadi lebih baik," tuturnya.

Lebih lanjut Zulkifli mengatakan penting bagi umat Islam untuk belajar banyak ilmu. Diceritakannya pada zaman dulu, umat Islam mampu mengalahkan peradaban-peradaban besar, termasuk bangsa Romawi di Barat dan bangsa Persia di Timur.

"Mereka dulu disebut superpower, namun umat Islam bisa mengalahkannya," paparnya.


Dia melanjutkan, banyak ilmuwan muslim menerapkan ilmunya dalam kehidupan hingga membuat perubahan peradaban. Menurut Zulkifli, pada masa itu umat Islam adalah masyarakat yang menguasai ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, dan mengikuti perkembangan zaman.

"Karena pada masa itu lahir ilmuwan-ilmuwan dari kalangan umat Islam. Jadi umat Islam, selain pintar agama, juga pintar dalam soal perekonomian," paparnya.

Menurut Zulkifli, sebuah bangsa itu maju bukan ditentukan oleh sumber daya alamnya, melainkan oleh sumber daya manusianya. Karena itu, dirinya berpesan kepada para santri untuk menuntut ilmu agar Indonesia maju.

"Singapura tak memiliki sumber daya alam, namun mereka bisa sejahtera. Itu bisa terjadi karena negara maju tergantung orangnya, kalau yang ngurus negara punya ilmu, negaranya maju dan sejahtera," pungkasnya. (idr/idr)