DetikNews
Selasa 17 Juli 2018, 15:05 WIB

Survei LSI: Pro-Pancasila Turun 10%, Pro-NKRI Bersyariah Naik 9%

Faiq Hidayat - detikNews
Survei LSI: Pro-Pancasila Turun 10%, Pro-NKRI Bersyariah Naik 9% Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom
Jakarta - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA melakukan survei analisis pro-Pancasila. Hasilnya, survei menunjukkan publik yang pro-Pancasila menurun.

Survei ini dilaksanakan di 34 provinsi pada 28 Juni-5 Juli 2018. Jumlah sampel sebanyak 1.200 orang dengan metode multistage random sampling dan toleransi kesalahan (margin of error) survei diperkirakan ±2,9%.


Responden terpilih diwawancarai menggunakan kuesioner. Survei ini dibiayai sendiri oleh LSI Denny JA.

"Pada tahun 2005, publik yang pro-Pancasila angkanya mencapai 85,2%, lima tahun kemudian, tahun 2010, angkanya menjadi 81,7%. Tahun 2015 angkanya menjadi 79,4% dan tahun 2018 menjadi 75,3%. Dalam waktu 13 tahun, publik yang pro-Pancasila menurun 10%," ucap peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa, saat pemaparan survei di kantor LSI Denny JA, Rawamangun, Jakarta, Selasa (17/7/2018).

Di sisi lain, Ardian menyebutkan publik yang pro-NKRI bersyariah mengalami kenaikan sebesar 9% selama 13 tahun. Pada 2005, angkanya mencapai 4,6%, tahun 2010 mencapai 7,3%, dan tahun 2015 mencapai 9,8%.

"Dan sekarang tahun 2018 menjadi 13,2%. Dalam waktu kurun 13 tahun, ada kenaikan persetujuan publik terhadap NKRI bersyariah sebesar 9%," tutur Ardian.


Ardian menjelaskan tiga alasan publik yang pro-Pancasila menurun, yaitu ekonomi, paham alternatif, dan sosialisasi. Menurut Ardian, kesenjangan ekonomi semakin tinggi dalam masyarakat.

"Alasan kedua, paham alternatif semakin digaungkan di luar Pancasila. Intensifnya paham alternatif di luar Pancasila mampu menarik, terutama warga muslim. Alasan ketiga, tidak tersosialisasi dari masyarakat kepada masyarakat," jelas Ardian.

Kemudian menurunnya pro-Pancasila juga terasa di berbagai segmen, seperti warga penghasilan rendah. Ardian menjelaskan publik yang berpenghasilan di bawah Rp 1 juta yang pro-Pancasila pada 2005 mencapai 91,8%, pada 2010 mencapai 85,7%, pada 2015 mencapai 79,1%, dan pada 2018 mencapai 69,1%.


Sedangkan publik yang berpenghasilan di atas Rp 3 juta pada 2005 mencapai 77,8%, pada 2010 sebesar 76,8%, pada 2015 mencapai 76,6%, dan pada 2018 mencapai 76,4%.

Untuk warga muslim yang pro-Pancasila pada 2005 mencapai 85,6%, pada 2010 mencapai 81,8%, pada 2015 mencapai 79,1%, dan pada 2018 sebesar 74,%. Sedangkan agama lainnya, Katolik, Protestan, Hindu, dan Buddha, yang pro-Pancasila, sangat stabil dengan angka 82,8%.

Sementara itu, Adrian juga mengatakan menurunnya angka warga pro-Pancasila merata di level pendidikan. Lulusan atau di bawah SD pada 2005 mencapai 86,5%, pada 2010 mencapai 83,1%, pada 2015 mencapai 80,1%, dan pada 2018 mencapai 76,3%.

Sedangkan lulusan SLTP yang pro-Pancasila pada 2005 mencapai 84,7%, pada 2010 sebesar 81,3%, pada 2015 mencapai 80,0%, dan pada 2018 sebesar 76,5%. Untuk lulusan SMA, yang pro-Pancasila pada 2005 mencapai 83,3%, pada 2010 mencapai 80,1%, pada 2015 mencapai 78,4%, dan pada 2018 sebesar 74,0%.

"Yang pernah kuliah atau di atasnya yang pro-Pancasila tahun 2005 82,2% hingga tahun 2018 mengalami penurunan. Tahun 2018 mencapai 72,8%," ucap Ardian.
(fai/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed