DetikNews
Senin 16 Juli 2018, 18:44 WIB

Saat Politikus Hijrah Disamakan Transfer Ronaldo ke Juventus

Erwin Dariyanto - detikNews
Saat Politikus Hijrah Disamakan Transfer Ronaldo ke Juventus Okky Asokawati (Hary Lukita Wardani/detikcom)
FOKUS BERITA: Bursa Transfer Caleg
Jakarta - Jika di dunia sepak bola, ada istilah transfer antarpemain. Dunia politik pun mengenal perpindahan politikus. Mendekati masa pendaftaran calon anggota legislatif 2019, sejumlah politikus berpindah partai. Rumor tak sedap, yakni adanya 'nilai transfer', mewarnai kepindahan mereka.

Awal bulan ini, misalnya, Lucky Hakim disebut menerima uang panjar untuk berpindah dari Partai Amanat Nasional ke Partai NasDem. Ketua DPP PAN Yandri Susanto menyebut Lucky berpindah lantaran diiming-imingi uang muka sebesar Rp 2 miliar sebagai dana konsolidasi. "Panjarnya menurut Lucky Rp 2 M," ucap Yandri.



Akhir pekan lalu, kembali beredar di sejumlah WhatsApps Group sebuah gambar dengan judul 'Bursa Transfer Politisi Musim Ini'. Kepindahan beberapa politikus ke partai lain disebut memiliki nilai transfer.

Okky Asokawati, politikus yang memutuskan berpindah dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ke Partai Nasional Demokrat (NasDem), disebut memiliki 'nilai transfer' Rp 10 miliar. Okky membantah kabar tersebut.

Dia mengaku tak tahu asal-muasal kabar tersebut. Ia menegaskan perpindahan politikus dari satu partai ke partai lain tidaklah sama dengan transfer pemain bola dari satu klub ke klub lain. "Misalnya, seperti pindahnya Ronaldo dari Real Madrid ke Juventus," kata Okky saat berbincang dengan detikcom, Senin (16/7/2018).

"Hijrahnya politisi ke partai lain karena ide dan gagasan yang dibawanya," lanjutnya.



Sekretaris Jenderal Partai NasDem Johnny G Plate mengatakan, asalkan tak melanggar undang-undang, perpindahan politikus dari satu partai ke partai lain adalah hal biasa. Sepanjang memenuhi persyaratan, NasDem juga akan menerima jika ada politikus partai lain yang ingin pindah bergabung.

Johnny membantah bahwa NasDem akan memberikan 'nilai transfer' terhadap politikus yang mau bergabung. Sebab, selama ini partainya selalu menerapkan politik tanpa mahar. Kader-kader potensial yang maju sebagai calon kepala daerah ataupun kandidat anggota legislatif tak akan dimintai uang mahar.

"Kami tidak pernah menarik (biaya) saat penerimaan calon kepala daerah. Kemudian ada orang bilang kami membayar orang yang baru bergabung, itu masuk akal nggak," kata Johnny.



Dia pun menyebut kabar NasDem memberikan 'nilai transfer' untuk politikus yang mau bergabung merupakan isu sampah yang tak bermanfaat dan bisa merusak sistem politik. "Kalau terus ditanggapi akan membuang-buang energi," kata dia.
(erd/jat)
FOKUS BERITA: Bursa Transfer Caleg
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed