DetikNews
Senin 16 Juli 2018, 13:25 WIB

Pasar Pocong di Sumsel Selalu Ramai, Berdiri sejak 2002

Raja Adil Siregar - detikNews
Pasar Pocong di Sumsel Selalu Ramai, Berdiri sejak 2002 Pasar Pocong di TPU di Palembang (raja/detikcom)
Palembang - Sementara pasar pada umumnya berada di tempat keramaian, hal berbeda terlihat di salah satu pasar tradisional di Palembang, Sumatera Selatan. Pasar itu disebut warga sebagai 'Pasar Pocong'. Kok bisa?

Dari informasi yang dihimpun detikcom, Pasar Pocong sudah berdiri sejak 2002. Pasar ini dulu bernama 'Pasar Naga Sewidak' dan beroperasi dari pagi hingga sore.

Karena letaknya yang berada di tempat pemakaman umum (TPU), Pasar Naga Sewidak akhirnya disebut warga sebagai Pasar Pocong. Meskipun nama pasarnya seram, warga tetap ramai berbelanja di sana.

Pasar dengan luas 100 meter persegi tersebut bahkan menjadi pasar unik yang ada di Kota Palembang. Bukan hanya karena letaknya, tapi juga lantaran harga bahan baku yang ada di pasar itu murah.

"Kalau harga relatif murah di sini, berbeda dengan pasar tradisional lainnya. Selisih harga lumayan, berkisar Rp 2-3 ribu," kata salah seorang pembeli, Mirayanti, kepada detikcom, Senin (16/7/2018).

Menurut Mira, dirinya selalu berbelanja di Pasar Pocong setiap hari. Bukan karena harga, tapi juga karena letaknya tidak jauh dari tempat tinggalnya di Jalan Panjaitan, Kelurahan 14 Ulu, Palembang.

Seperti namanya, 'Pasar Pocong', Mira mengaku sering mendapat kabar adanya pedagang serta pembeli yang merasa aneh dan melihat sesuatu saat berbelanja. Dari hal mistis hingga keanehan lain.

"Hal mistis sering dengar, kadang ada barang belanjaan yang berpindah dan ada juga warga yang melihat sesuatu melintas di pemakaman," katanya.

Meskipun banyak keanehan, pasar itu disebut tetap menjadi primadona oleh warga sekitar. Mengingat di Pasar Pocong hampir semua kebutuhan pokok tersedia.

Ratusan pedagang terlihat menggelar lapak di antara jalan di TPU Naga Sewidak. Sedangkan di bagian kanan, kiri, dan belakangnya, terlihat ada batu nisan.

Tidak jarang, pedagang menumpukkan dagangan mereka di atas batu nisan di TPU Naga Sewidak. Termasuk duduk di atasnya saat berjualan.

"Kami jualan di sini pagi sampai sore hari, selesai jualan kami langsung bersihkan lapak masing-masing. Tetapi ada juga yang bayar kebersihan," kata salah satu pedagang, Karman.

Sudah berjualan belasan tahun, Karman mengaku awalnya sempat pesimistis tidak ada warga yang berbelanja. Seiring dengan berjalannya waktu, Pasar Pocong mulai dikenal dan banyak yang berbelanja.

"Awalnya sempat ragu ada orang yang belanja, saya berpikir orang akan takut. Seiring waktu, ternyata orang mulai tahu dan ramai. Kalau ada hal yang mistis itu biasa, tapi kalau saya sih belum pernah merasakan langsung," tutupnya.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed