DetikNews
Senin 16 Juli 2018, 09:34 WIB

Ini Pasal yang Dikenakan Pelaku Pembantaian Buaya di Sorong

Faiq Hidayat - detikNews
Ini Pasal yang Dikenakan Pelaku Pembantaian Buaya di Sorong Foto: Pembantaian buaya di Kabupaten Sorong (Dok Polda Papua Barat)
Jakarta - Polisi hingga saat ini masih menyelidiki pembantaian 292 ekor buaya di penangkaran. Jika terungkap, warga yang terlibat terancam kurungan penjara 9 bulan.

Kabid Humas Polda Papua Barat, AKBP Hary Supriyono mengatakan, pihaknya akan menggunakan pasal 21 ayat 2 huruf a Jo pasal 40 ayat 2 Undang-undang RI nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Hayati dan Ekosistem Jo Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa.

"Pasal 302 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP): Jika perbuatan itu mengakibatkan sakit lebih dari seminggu, atau cacat atau menderita luka-luka berat lainnya, atau mati, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan, atau pidana denda paling banyak tiga ratus rupiah, karena penganiayaan hewan," kata Hary mengutip isi Pasal 302 KUHP, dalam pesan singkat kepada detikcom, Senin (16/7/2018).


Tonton juga 'Kejam! Warga Sorong Ramai-ramai Bantai 292 Buaya di Penangkaran':

[Gambas:Video 20detik]



Namun Hary menyebut pihaknya hingga saat ini belum menangkap pelaku pembataian 292 ekor buaya, dan penjarahan anak buaya tersebut. Polisi hingga saat ini masih melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di lokasi kejadian.

"Dalam proses penyidikan. Masih didalami dan olah TKP," ucap Hary.

Untuk anak-anak buaya yang dijarah warga, dikatakan Hary sebagian dikubur dan dimanfaatkan oleh pemilik penangkar PT Mitra Lestari Abadi (MLA).

Kasus ini bermula, seorang warga Sorong bernama Sugito mencari rumput dan kangkung. Kepala Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua Barat Basar Manullang dalam laporannya ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengatakan cerita bermula saat Sugito mencari sayur dan kangkung di sekitar penangkaran buaya pada Jumat (13/7) pagi.

"Menurut pengakuan salah satu pegawai CV MLA, korban masuk tanpa izin. Di sekitar dan di dalam kolam tumbuh rumput dan kangkung. Kemungkinan korban mau ambil rumput dan kangkung tanpa memikirkan akibatnya," ujar Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK Wiratno, Minggu (15/7).

Pasca tewasnya Sugito, warga sekitar pun marah. Pada Jumat malam, mereka mendatangi penangkaran untuk meminta agar penangkaran itu ditutup. Mereka juga menanyakan izin usaha yang dimiliki leh CV MLA. Dalam pertemuan itu, CV MLA berkomitmen akan menunjukkan izin usaha dan menyanggupi memberikan uang santunan.

Kemudian pada Sabtu (14/7), Sugito dimakamkan. Tak lama setelah pemakaman berakhir sebanyak kurang lebih 400 orang mendatangi penangkaran yang dikelola CV MLA. Mereka langsung melakukan tindakan perusakan kantor.

Ini Pasal yang Dikenakan Pelaku Pembantaian Buaya di Sorong

(fai/nvl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed