Kondisi Bayi yang Ditolak Enam Rumah Sakit Mulai Membaik
Kamis, 28 Jul 2005 12:09 WIB
Jakarta - Setelah nasibnya sempat diombang-ambingkan enam rumah sakit, kondisi bayi Zulfikri (15 hari) kini mulai membaik. Kadar bilirubin dalam darahnya yang semula mencapai 20,9 ml/desiliter, kini tercatat 9,9 ml/desiliter.Tingginya kadar bilirubin menyebabkan warna kuning pada kulit Zul, panggilan bayi malang itu. Padahal normalnya kadar bilirubin dalam darah adalah sama dengan atau kurang dari 10 ml/desiliter. Zul yang lahir dalam kondisi prematur, usia kandungan tujuh bulan, berat badannya kini juga naik 100 gram dari 1,4 kg menjadi 1,5 kg.Kondisi kesehatan Zul ini disampaikan dr Indra yang merawatnya kepada detikcom di RSIB Harapan Bunda, Jalan Raya Bogor, Jakarta Timur, Kamis (28/7/2005)."Saat masuk Zul diketahui menderita infeksi sistemik. Itu infeksi keseluruhan, tapi sudah berhasil ditangani. Indikasinya kadar bilirubinnya sudah turun," ungkap dr Indra.Meski kondisinya sudah membaik, dr Indra belum bisa memastikan kapan Zul bisa pulang. Sebab pihak rumah sakit masih menunggu peningkatan berat badannya. "Kita targetkan beratnya naik jadi 2,5 kg. Selain itu kita juga akan pastikan apakah dia sudah bisa minum secara normal," katanya.Dibantu Tiga DonaturDi tempat yang sama, ayah Zul, Husein (23) mengungkapkan, untuk perawatan putranya itu, pihak rumah sakit telah membebaskan biaya perawatannya. Sedangkan untuk pengobatan anaknya, Husein menuturkan, saat ini pihaknya dibantu oleh tiga donatur yang enggan disebutkan namanya. "Ada WNI yang tinggal di Belanda, satu dari Jakarta dan satu lagi dari Yayasan Kehati," kata Husein.Husein juga sempat menceritakan kembali pengalamannya ditolak enam rumah sakit karena kemiskinannya. Nyaris semua rumah sakit yang didatanginya menanyakan kesanggupannya membayar perawatan anaknya sebelum benar-benar menolak dengan alasan kekurangan peralatan.Bahkan RSPAD Gatot Soebroto sempat meminta Rp 700 ribu per hari kepada Husein untuk biaya perawatan Zul. Padahal, dalam rapat pemanggilan oleh Menkes Siti Fadilah Supari pada Rabu (27/7/2005), RSPAD beralasan ruang perawatannya penuh."Di RSPAD dokternya ngomong, ibu berani nggak bayar Rp 700 ribu per hari. Setelah beberapa menit, dokternya bilang lagi kalau ruangannya penuh," kata Husein.Husein yang bekerja sebagai buruh proyek berharap rumah sakit tidak mempersulit pengobatan bagi orang miskin. "Saya harap Menkes menegaskan pada rumah sakit-rumah sakit itu tentang sumpah jabatan mereka. Jangan bebani lagi masyarakat miskin," katanya.Sekadar diketahui, bersama istrinya, Lailasari, Husein sempat ditolak enam rumah sakit untuk merawat anaknya yang lahir prematur. Hanya satu rumah sakit saja yang bersedia menerimanya setelah seharian ditolak, yakni RSIB Harapan Bunda.Enam rumah sakit itu adalah RSCM, RS Budhi Asih, RSPAD Gatot Soebroto, RSAL Mintohardjo, RS UKI, dan RS Harapan Kita. Keenam rumah sakit ini telah mendapat peringatan keras dari Menkes.
(umi/)











































