DetikNews
Jumat 13 Juli 2018, 11:19 WIB

KLHK Nilai Kerja Sama ASEAN Bisa Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca

Moch Prima Fauzi - detikNews
KLHK Nilai Kerja Sama ASEAN Bisa Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Foto: KLHK
Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menegaskan kembali pentingnya dukungan anggota ASEAN (ASEAN Member State/AMS) dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor kehutanan atau Land Use Land Use Changes of Forest (LULUCF) sebesar 11.65 Gt karbon per tahun.



Dikatakan oleh Kepala Badan Litbang dan Inovasi (BLI KLHK Agus Justianto, negara anggota ASEAN bisa mengurangi emisi sebesar 5,48 persen dari total emisi target NDC yang dinyatakan dalam Paris Agreement. Ia mengungkapkan bahwa negara berkembang sendiri berkontribusi sebanyak 75 persen dari 17 persen emisi global.

"Walaupun tahapan implementasi REDD+ berbeda antar negara, namun implementasi REDD+ penting untuk memenuhi target NDC (National Determined Contribution), di bawah kerangka Paris Agreement", ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (13/7/2018).

Justianto yang hadir pada The 19th International Seminar on Current International Issues Affecting Forestry dan Forest Product di Nay Pyi Taw, Myanmar, itu mengatakan anggota ASEAN bisa melakukan hal-hal yang besar jika bekerja sama dalam rangka mempengaruhi kebijakan di level internasional.

Sebagai ASEAN Senior Officer on Forestry (ASOF) Leader dari Indonesia, Justianto menyampaikan, sektor kehutanan berkontribusi 17,2% untuk mencapai 29% target NDC Indonesia.

"Hal ini didukung strategi menjaga angka deforestasi sebesar 0,45 juta hektar pertahun, hingga tahun 2020, dan 0,35 juta hektare per tahun, dari tahun 2021-2030," paparnya.



Lebih lanjut ia menjelaskan, strategi lain pengurangan emisi GRK ini bisa menggunakan prinsip Manajemen Hutan Lestari, rehabilitasi 12 juta hektare lahan terdegradasi (atau 800.000 hektar per tahun dengan angka keberhasilan 90%), dan restorasi 2 juta hektare lahan gambut hingga tahun 2030 dengan angka keberhasilan 90 persen.

Acara seminar itu dibuka oleh H.E. U Ohn Winn, Menteri Sumber Daya Alam dan Konservasi Lingkungan Myanmar, dengan menghadirkan narasumber dari CIFOR, FAO, ICRAF, RECOFTC. Dalam kesempatan ini, Indonesia dan beberapa negara lainnya, berbagi pengalaman terkait kontribusi sektor kehutanan bagi implementasi NDC.
(mul/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed