"Selama saya di sini, mayoritas terjangkit rata-rata remaja (usia) 16-28 tahun, pria dan wanita," ujar Kepala BNN Kota Depok Rusli Lubis seusai acara Hari Antinarkoba Internasional (HANI) di gedung BNN, Jalan Merdeka, Abadijaya, Sukmajaya, Depok, Kamis (12/7/2018).
Rusli mengatakan para remaja terkena narkoba akibat salah pergaulan. "Mereka pergaulan, pria lebih utama, pergaulan dan coba-coba. Rekannya mengajak temannya yang punya masalah di keluarga, curhat, lalu cari teman, tapi temannya pengguna, lalu ditawari menggunakan ke yang curhat ini," sambungnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak 2017, BNN Kota Depok telah menangani 50 orang yang melakukan rehab. Sementara itu, hingga pertengahan tahun 2018 ini, ada 23 orang yang sudah direhabilitasi.
"Terkait kasus narkoba yang ke hukum, ada tiga tersangka yang ditangani. Ada beberapa juga yang dikirim ke Polres waktu 2017. Kalau sekarang belum karena kita masih bisa tangani," lanjutnya.
Jenis narkoba yang banyak dikonsumsi di Kota Depok adalah jenis sabu. "Karena sabu gampang ditemukan dalam peredaran, lebih keren dalam pergaulan," tuturnya.
Sedangkan kecamatan di Depok yang rawan narkoba adalah Sukmajaya. "Rata-rata tindakan itu zona merahnya di Sukmajaya," tandasnya.











































